Mabur.co – Sutradara film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Dandhy Dwi Laksono, menjelaskan bagaimana proses pemilihan judul “Pesta Babi” dalam film dokumenter terbarunya bersama Cypri Paju Dale tersebut.
Menurut Dandhy, istilah ‘pesta babi’ tidak datang begitu saja, melainkan memang ada dalam salah satu tradisi di Papua, dan telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
“Secara antropologi kan konsepnya pig feast, dan itu masih ada turunannya tuh. Ada yang disebut bakar batu, pasar babi, maupun pesta babi itu sendiri. Jadi literally di film ini memang ada scene yang menampilkan pesta babi di dalamnya. Dan makna dari pesta itulah yang kemudian menjadi semiotika dalam film ini,” ucap Dhandy dalam konten Bocor Alus Politik, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Tempodotco, Sabtu (16/5/2026).
Dandhy sendiri mengakui bahwa ia bersama tim awalnya ingin menggunakan judul “Salib Merah”, yang juga merupakan salah satu tradisi yang ada di Papua, sebagai gerakan perlawanan dan protes damai modern dari masyarakat adat terhadap kekejaman para penguasa.
Hanya saja, judul ini dianggap Dandhy lebih identik dengan struktur masyarakat tertentu (kaum Kristiani), sehingga kurang pas jika diterapkan untuk judul film dokumenter yang sifatnya nasional dan disaksikan oleh masyarakat heterogen.
“Kami merasa (judul) ‘Salib Merah’ lebih ke identitas (masyarakat tertentu), jika dibandingkan dengan (judul) ‘Pesta Babi’. Karena ‘Pesta Babi’ itu nggak terkait dengan identitas,” tambah Dandhy.
Meski demikian, baik ‘Pesta Babi’ maupun ‘Salib Merah’, keduanya tetap terangkum dengan baik dalam film dokumenter yang satu ini. Karena keduanya adalah wujud tradisi yang telah mengakar kuat di tanah Papua. (*)



