Mengenal Amir Syarifudin Harahap, Nasionalis yang Tersisihkan

7 Min Read
Amir Syarifuddin bersama Bung Hatta, Sutan Sjahrir dan Agus Salim. Sumber: Potret Lawas

Amir Syarifuddin adalah pejuang dan tokoh nasional yang akhir hidupnya tragis, karena ditembak mati karena terlibat dalam Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948.

Amir Syarifuddin dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1907 di Medan. Ia anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Baginda Soripada Harahap dan Ibunya Basoenoe Boru Siregar.

Mereka adalah orang terkemuka di Tapanuli Selatan. Zaman Hindia-Belanda, Baginda Soripada menjabat sebagai Hoofddjaksa di Sibolga dan kemudian dipindahkan ke Medan dengan jabatan yang sama.

Nama Amir Syarifudin memiliki arti “Pembaharu Iman”. Amir Syarifudin bergelar bangsawan Batak yaitu Sutan Gunung Sualoon. Yang ia dapat dari garis keturunan kakeknya.

Pendidikan Amir dimulai dengan masuk sekolah dasar pada 1915 di Europeesche Lagere School (ELS) di Medan.

ELS adalah sekolah dasar Belanda yang diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan bangsawan Indonesia. Kemudian tahun 1917 Amir berpindah ke ELS di Sibolga. Setelah lulus dari sekolah dasar di ELS (lulus tahun 1921).

1926 Amir Syarifudin berangkat ke Belanda. Di Belanda Amir bersama sepupunya yang sebelumnya telah bersekolah di Belanda lebih dulu. Bersama sepupunya Amir tinggal di rumah keluarga Dirk Smink di Haarlem.

Keluarga Smink merupakan anggota Gereja Gereformeerd yang sangat setia dan saleh. Amir yang tiba di Belanda, tertarik dengan bahasa kuno, hingga Ia masuk di sekolah Negeri Gymnasium di Haarlem.

Pada tahun 1922, Mulia sepupunya menyelesaikan sekolahnya dan kembali ke Indonesia. Amir hidup bersama keluarga Smink tanpa ditemani sepupunya yang awalnya selalu menemani Amir.

Setahun kemudian Amir pindah ke Gymnasium Negeri di Leiden Kepindahan Amir ke Leiden disebabkan karena adanya pertentangan antara Amir dan keluarga Smink.

Dikatakan bahwa Dalam Gereja Gereformeerd, setiap orang yang berdiam dalam keluarga anggota Gereja wajib mengikuti kebaktian setiap hari minggu di gereja.

Kepada keluarga Smink, Amir selalu menjelaskan bahwa Ia adalah seorang yang beragama Islam dan tidak bisa mengikuti peraturan tersebut.

Amir yang merupakan seorang muslim tentu tidak bisa mengikuti peraturan yang ada dalam keluarga Smink.

Untuk mengatasi perselisihan antara Amir dan keluarga Smink yang dengan segala peraturannya ini, Amir memutuskan untuk pindah ke Leiden dengan persetujuan Ayahnya dan akhirnya Ayah Amir mengabulkan permintaannya.

Pindah ke Leiden

Di Leiden, Amir menumpang di rumah Nyonya A.A. van de Loosdrecht-Sizoo bersama dengan beberapa mahasiswa dari Indonesia.

Di tempat baru ini Amir bersahabat dengan salah satu mahasiswa Indonesia yang bernama Ferdinand Tampubolon.

Ferdinand ialah orang yang mengajak Amir tinggal di rumah Nyonya Sizoo. Ferdinand adalah seorang Kristen yang taat.

Persahabatan Amir dengan Ferdinand sangat erat. Di sinilah Amir mulai mengenal Injil melalui Ferdinand. Ferdinand Tampubolon menceritakan banyak tentang Injil kepada Amir.

Ketika Ferdinand jatuh sakit (kemudian meninggal dunia di Leiden) ia menghadiahkan Alkitabnya yang penuh dengan goresan pada banyak ayat kepada Amir Syarifudin.

Inilah Alkitab pertama yang pernah dimiliki pemuda Islam itu. Sedikit demi sedikit Amir mengenal Injil melalui sahabatnya.

Pemberian Injil oleh Ferdinand untuk Amir, menjadikan Amir tertarik untuk membaca dan memahami Alkitab yang dia dapat dari pemberian mendiang sahabatnya tersebut.

Lambat laun Amir semakin tertarik dengan Injil. Walaupun Amir masih beragama Islam, Amir selalu memberikan perhatian besar soal perbedaan agama Islam dan Kristen.

Semasa di Gymnasium Amir tergolong siswa yang cerdas dan ia adalah siswa yang aktif. Di sekolah, Amir tidak mengalami kesulitan dalam soal bahasa.

Banyak bahasa yang ia kuasai. Amir dapat menyelesaikan pelajarannya pada Gymnasium Negeri di Leiden dan lulus pada tahun 1927.

Pada Gymnasium tersebut, ia tidak mengalami kesulitan dalam soal bahasa. Bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Yunani dan Latin dengan mudah dapat dikuasainya.

Amir juga mempunyai perhatian yang besar kepada karya sastra dunia terutama karya pujangga Inggris yang terkenal yaitu W. Shakespeare. Di sekolah ia telah menunjukkan kelincahannya berpidato dengan gaya yang menarik.

Setamat dari Gymnasium di Leiden kemudian Amir meneruskan ke Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Keramat.

Di sinilah Amir Syarifudin mulai terlibat secara langsung dalam pergerakan kebangsaan Indonesia. Ia juga ikut andil dalam kelahiran Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Kemudian juga masuk Jong Sumatranen Bond, Jong Batak’s Bond yaitu organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan.

Ia juga aktif dalam organisasi lain seperti perkumpulan pemuda dan pelajar seluruh Indonesia. Organisasi ini bersifat nasional dengan diskusi-diskusi yang membahas tentang politik dan perjuangan bangsa Indonesia. Misalnya dengan bergabung pada Partai Indonesia (Partindo) dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), partai yang ia bentuk sendiri.

Amir juga dikenal sebagai organisator ulung dan sebagai orator yang mampu membakar semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Pada masa pendudukan Jepang, Amir menjadi pemimpin gerakan bawah tanah terbesar.

Sepak terjang Amir pada masa perjuangan, membuat ia dipercayai sebagai Menteri Penerangan pasca-kemerdekaan pada kabinet pertama yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Selanjutnya ia menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan pada masa Kabinet Sjahrir dan puncak karirnya adalah Amir menjadi Perdana Menteri menggantikan Sutan Sjahrir yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan sengketa dengan Belanda yang berusaha menguasai kembali Indonesia setelah Indonesia merdeka.

Namun Amir dianggap gagal karena berdasarkan Perjanjian Renvile yang dilaksanakan 8 Desember 1947 hingga 17 Januari 1948 di atas kapal perang USS Renville, wilayah RI semakin menciut terbatas hanya Yogyakarta, Jawa Tengah dan Sumatera.

Akibatnya TNI harus ditarik mundur dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur maka Amir Syarifuddin mendapat kecaman dari banyak pihak dari republik sendiri. Hingga akhirnya Amir menyerahkan mandat sebagai Perdana Menteri (PM) kepada Presiden Soekarno.

Setelah mundur dari jabatan PM, ia kemudian mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR), yang merupakan front persatuan kaum kiri di Indonesia yang didirikan pada Februari 1948 dan beranggotakan Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Buruh Indonesia (PBI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Dari sinilah kemudian Amir Syarifudin terlibat dalam Pemberontakan PKI Madiun 1948, dan akhirnya ditembak mati.

Itulah akhir riwayat Amir Syarifuddin yang akhirnya harus meninggal secara tragis di tangan sesama bangsa dan teman seperjuangannya yang berbeda ideologi, maka bisa diibaratkan teman seiring bertukar jalan, nasionalis yang tersisihkan. ***

Referensi
Yema Siska Purba, Amir Syarifuddin, Nasionalisme Yang Tersisih (2013).
Harry A Poeze, 2011, Madiun 1948 PKI Bergerak, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Share This Article
Retno Winarni
Sejarawan Dosen Ilmu Sejarah FIB Universitas Jember
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment