Belajar Kebudayaan dari Seorang Tan Malaka

4 Min Read
Ibrahim Datuk Sutan Malaka (Tan Malaka) (Foto: mahasiswaindonesia.id)

Mabur.co – Ibrahim Datuk Sutan Malaka (Tan Malaka) adalah seorang revolusioner, filsuf, budayawan, sekaligus pejuang kemerdekaan terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Pemerintah pun telah menetapkannya sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Lahir pada 2 Juni 1897, atau tepat 129 tahun lalu, Tan Malaka dikenal sebagai salah satu pemikir serta budayawan yang begitu kritis terhadap rezim kekuasaan.

Sikap kritisnya itu pun diwujudkan secara gamblang dalam karya monumentalnya berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), di mana ia menentang keras cara berpikir mistis dan irasional yang saat itu masih mengakar kuat di masyarakat, dan terus mendorong bangsa Indonesia untuk mengadopsi nalar ilmiah serta budaya materialisme historis.

Selain itu, Tan Malaka juga dikenal sebagai orang pertama yang menggagas konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan pada 1945.

Dalam konteks kebudayaan sendiri, Tan Malaka dikenal begitu tegas dalam memperjuangkan kemerdekaan yang sebenar-benarnya, bukan hanya kemerdekaan yang “seolah-olah”, atau demi pengakuan dari bangsa-bangsa lain, dan seterusnya.

Dengan menerapkan konsep “pikiran merdeka”, ia menginginkan rakyat Indonesia agar mampu meninggalkan mental terjajah, serta memiliki mindset layaknya negara-negara maju, sehingga memiliki kesempatan untuk sejajar dengan negara-negara maju lainnya.

Dilansir dari laman Liputan6, Selasa (2/6/2026), berikut adalah pilar-pilar utama pemikiran Tan Malaka dalam aspek kebudayaan, yang masih cukup relevan dengan kondisi saat ini.

1. Menghapus Mental “Budak”

Dalam karyanya yang berjudul Aksi Massa, Tan Malaka menekankan pentingnya membuang “kotoran kesaktian” dan budaya kuno yang pasif. Ia menolak kepasifan dan sikap tunduk membabi buta kepada penguasa.

Baginya, manusia yang tidak memajukan kebudayaan manusia lainnya tidak layak disebut sebagai manusia itu sendiri. Maka dari itu, bangsa Indonesia harus mampu menghilangkan “mental budak” untuk bisa berdiri sejajar dengan bangsa lain.

2. Berpikir Merdeka dan Logis (Madilog)

Warisan terbesar Tan Malaka di bidang intelektual adalah konsep Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika).

Menurutnya, kebudayaan yang maju harus dibangun di atas fondasi logika, bukan takhayul atau mitos. Ia mengajarkan masyarakat agar berani berpikir kritis, dan membebaskan diri dari belenggu ketidaktahuan.

3. Membudayakan Praktik Literasi

Tan Malaka adalah sosok kutu buku sejati. Ia menjadikan membaca dan menulis sebagai senjata perlawanan, dan alat untuk memajukan bangsa.

Oleh karena itu, ia berharap agar para pemuda memiliki wawasan yang luas, di mana buku adalah sumber utama untuk memperoleh wawasan tersebut (pada saat itu).

4. Pendidikan untuk Membebaskan

Dalam pandangannya, pendidikan adalah alat untuk memanusiakan manusia. Pendidikan tidak boleh hanya sekadar menghafal. Di situlah kemudian Tan Malaka mendirikan sekolah untuk rakyat jelata, demi menghilangkan kasta dan diskriminasi yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan (bahkan sampai hari ini), dan menekankan pentingnya kemandirian serta berpikir kritis.

***

Meski telah wafat 77 tahun lalu akibat ditembak mati oleh pasukan militer Indonesia di Kediri, Jawa Timur, namun pemikiran dan cara pandang Tan Malaka dalam aspek kebudayaan terhadap bangsa dan negara ini, patut menjadi warisan abadi yang layak diteruskan kepada generasi-generasi penerusnya.

Sehingga hal itu mampu menjadi pembelajaran yang baik, tentang bagaimana seharusnya kita memandang situasi hari ini, yang sebetulnya tidak jauh berbeda dengan masa-masa awal kemerdekaan saat itu. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment