Mabur.co – Ibrahim Datuk Sutan Malaka (Tan Malaka) adalah seorang tokoh revolusioner yang lahir di Sumatera Barat pada 2 Juni 1897, atau tepat 129 tahun lalu.
Ia dikenal sebagai orang pertama yang menulis dan memperkenalkan konsep “republik”, sehingga dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia”, jauh sebelum peristiwa proklamasi kemerdekaan pada 1945.
Dalam pandangannya, konsep republik bukan hanya tentang perubahan dari sistem kerajaan menjadi pemerintahan tanpa raja, melainkan bagaimana mewujudkan kemerdekaan yang sebenar-benarnya merdeka, alias merdeka 100% dari segala macam penjajahan. Baik penjajahan dalam bentuk fisik, ekonomi, politik, kedaulatan, ideologi, dan lain-lain.
Dengan begitu, sebuah bangsa baru benar-benar bisa dinyatakan merdeka, jika telah mencapai syarat-syarat di atas.
Dilansir dari laman Historia ID, Selasa (2/6/2026), berikut adalah penjabaran dari gagasan konsep republik dari seorang Tan Malaka.
1. Kemerdekaan Tanpa Kompromi (Merdeka 100 Persen)
Tan Malaka menolak segala bentuk kompromi, perundingan, atau diplomasi lunak dengan penjajah terkait bagaimana kemerdekaan seharusnya berjalan.
Baginya, kemerdekaan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, dan mencakup pembebasan total dari imperialisme dan kapitalisme pihak manapun.
2. Kedaulatan di Tangan Rakyat
Republik yang sesungguhnya adalah republik yang membela dan dikuasai oleh kaum murba (rakyat jelata/proletariat).
Kekuasaan dalam negara republik tidak boleh dipegang oleh kaum feodal (bangsawan) atau borjuis (pemilik modal/kapitalis), yang hanya mementingkan keuntungan pribadi di atas penderitaan rakyat.
3. Ekonomi Kerakyatan
Kesejahteraan sosial adalah urat nadi dalam negara republik. Alat-alat produksi vital dan sumber daya alam harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk memperkaya segelintir korporat atau negara asing.
4. Pendidikan dan Kesadaran Politik
Republik hanya bisa berjalan sehat jika rakyatnya cerdas. Itulah sebabnya Tan Malaka menekankan pentingnya pendidikan politik dan pengetahuan modern (seperti yang tertuang dalam gagasan Madilog karyanya sendiri), agar tidak mudah dibodohi atau ditindas oleh penguasa.
***
Dengan berjalannya Indonesia yang telah dinyatakan merdeka selama hampir 81 tahun, gagasan ini sepertinya masih belum tampak terang-benderang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sampai hari ini.
Mengingat sikap penguasa sejak era Tan Malaka sendiri, sampai dengan era modern saat ini, sepertinya tidak mengalami perubahan secara signifikan. Sekalipun demo demi demo terus berlangsung dari waktu ke waktu, dan suara-suara kritis tak pernah berhenti menyuarakan ketidakadilan terhadap rezim yang berkuasa. (*)

