Mabur.co – Terletak di ujung barat wilayah DIY, tepatnya di Desa Kaligintung, Temon, Kulon Progo, Makam Astana Girigondo menjadi salah satu kompleks pemakaman raja-raja yang ada di DIY.
Jika makam Imogiri diperuntukkan bagi trah penguasa kerajaan Mataram Islam, termasuk Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, maka Makam Girigondo dikhususkan bagi penguasa Kadipaten Pakualaman.
Seperti halnya Makam Astana Imogiri di Bantul, kompleks Makam Astana Girigondo juga dibangun di kawasan perbukitan, yakni Perbukitan Menoreh Kulon Progo.
Selain sebagai bentuk pengukuhan status sosial sang raja sebagai sosok yang suci dan dihormati, pemilihan makam di lokasi tinggi ini juga menggambarkan spiritual kosmologi Jawa yang meyakini bahwa semakin tinggi suatu tempat, maka akan semakin dekat pula dengan sosok Sang Pencipta.
Sejarah Pendirian
Berdasarkan ensiklopedi budaya Kulon Progo, Makam Astana Girigondo dibangun pertama kali pada tahun 1990 atas perintah KGPAA Paku Alam V. Bukti tertulis pembangunan kompleks makam ini dapat dilihat pada prasasti yang terdapat pada pintu gerbang halaman yang menyebutkan angka tahun 1900.
Pemilihan kawasan ini sebagai kompleks pemakaman Raja-raja Pakualam sendiri ternyata memiliki sejarah panjang yang sangat menarik untuk ditelisik, meski tak banyak masyarakat yang mengetahui.
Menurut Abdi Dalem Juru Kunci Makam Astana Girigondo, Wasiludin, yang memiliki nama resmi Mas Riyo Rekso Winoto, sebelum menjadi kompleks Makam Astana Girigondo, bukit ini dulunya bernama Gunung Keling.
Lalu pada sekitar tahun 1850-an, penguasa Kadipaten Pakualaman, yakni KGPAA Pakualam ke-V memiliki keinginan, jika suatu saat ia meninggal, ia tidak ingin dimakamkan di Makam Raja-raja Kotagede maupun Imogiri sebagaimana para pendahulunya.
“Jadi karena ibunda Sri Paduka Pakualam ke-V itu berasal dari Trayu (sekarang Galur Kulon Progo) yang merupakan wilayah Kadipaten Adikarto, maka beliau juga ingin dimakamkan di wilayah Kadipaten Adikarta yang menjadi wilayah kekuasaannya,” katanya.

Setelah itu KGPAA Pakualam V melakukan oleh batin hingga mendapatkan wangsit untuk membangun komplek pemakaman di sebuah wilayah bernama Gunung Keling yang diyakini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki tempat lainnya.
Bau Harum dari Tanah
“Keistimewaan Gunung Keling ini adalah adanya bau yang sangat harum muncul dari salah satu bagian tanah. Sehingga akhirnya disebut Girigondo yang berasal dari kata ‘Giri’ atau gunung dan ‘Gondo’ atau bau wangi atau bau harum,” ujarnya.
Cerita turun-temurun ini pun dibenarkan warga setempat lainnya, misalnya Bayu Kusumo. Bayu menyebut bahwa munculnya baru harum di Gunung Keling itu tidak lepas dari kisah legenda terkait keberadaan Gunung Keling.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat, konon bau wangi yang ada di Gunung Keling itu pertama kali muncul pada masa awal berdirinya Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung.
Diceritakan, saat itu Sultan Agung baru saja pulang dari perjalanan jauh dari Tanah Suci untuk menunaikan Ibadah Haji. Sepulang dari tanah suci, ia membawa 2 genggam pasir dari Makkah.
“Pasir itu kemudian dilemparkan ke dua lokasi berbeda. Satu genggam pasir dilemparkan ke Gunung Merak yang kini menjadi lokasi Makam Imogiri, sedangkan satu genggam pasir lainnya dilemparkan ke Gunung Keling ini,” katanya, Jumat (5/6/2026).
Sejak ditemukan kembali oleh KGPAA Pakualam ke-V, gunung Keling yang akhirnya disebut sebagai Girigondo, kemudian mulai dibangun sebagai sebuah kompleks pemakaman penguasa Kadipaten Pakualaman.
Menurut Wasiludin, proses pembangunan Makam Astana Girigondo dimulai sekitar tahun 1880-an dan dilakukan oleh seorang bernama Distrik Wonodirjo.
Ia merupakan penduduk sekitar yang memiliki kemampuan olah batin serta ilmu tinggi, sehingga diangkat sebagai Abdi Dalem sekaligus orang kepercayaan Pakualam ke-V.
Proses pembangunan Makam Astana Girigondo ini kemudian selesai sekitar tahun 1990-an dan mulai digunakan sebagai makam Raja-raja Kadipaten Pakualaman mulai dari KGPAA Pakualam ke-V hingga KGPAA Pakualam ke-IX.
Selain menjadi bagian penting dari Kerajaan Kadipaten Pakualaman, keberadaan Makam Astana Girigondo ini juga menjadi bangunan warisan cagar budaya sekaligus kawasan wisata religi yang cukup populer di Yogyakarta. (Bersambung)

