Film Indonesia Masuk 7 Kategori Penghargaan Shanghai International Film Festival 2026

3 Min Read
Girl in a blue shirt offering a small red fruit to a shirtless man on a dusty street market, during a sunny day.
Salah satu adegan film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) (Foto: Matta Cinema Production)

Mabur.co – Dunia perfilman Indonesia semakin menunjukkan tren perkembangan yang luar biasa pesat sejak beberapa waktu terakhir. 

Hal itu terlihat dari semakin banyaknya film-film berkualitas yang dihasilkan insan perfilman di tanah air dalam mengisi dunia hiburan saat ini.

Tak hanya diakui di dalam negeri, prestasi perfilman Indonesia ternyata juga semakin diakui dan banyak meraih prestasi di panggung internasional. 

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang

Bahkan baru-baru ini sebuah film Indonesia berjudul Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (RBMT) karya sutradara Ismail Basbeth resmi terpilih masuk kompetisi utama dalam “Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026” yang merupakan salah satu festival film paling bergengsi di Asia.

Film yang memiliki judul internasional “My Own Last Supper” itu bahkan masuk dalam 7 kategori penghargaan sekaligus. Yakni Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Skenario Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Penghargaan Artistik Terbaik.

Kehadiran film RBMT di ajang SIFF 2026 ini pun membuktikan kualitas film Indonesia yang tak kalah bahkan mampu bersaing dengan sejumlah film terbaik dari berbagai negara di Asia lainnya.

Produser RBMT sekaligus CEO Matta Cinema Production, Nugroho Dewanto, mengaku menyambut baik pencapaian ini dengan penuh rasa bangga.

“Pencapaian ini merupakan kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami, bisa mewakili Indonesia dalam ajang festival film kelas dunia seperti SIFF,” kata Nugroho Dewanto sebagaimana dikutip Antara, Sabtu (6/6/2026).

Trauma dan Identitas Masyarakat Tionghoa

Flm RBMT sendiri dibuat dengan mengangkat trauma dan identitas masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dimana film ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pria tua keturunan Tionghoa bernama Encek yang bergulat dengan trauma psikologis dan pengalaman diskriminasi akibat identitas etnisnya.

Melalui karakter tersebut, film mencoba mengajak penonton memahami berbagai lapisan sejarah, identitas, dan luka sosial yang dialami sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Sutradara Ismail Basbeth menjelaskan bahwa film ini tidak hanya bercerita tentang trauma, tetapi juga tentang keberanian seseorang untuk memutus rantai luka antargenerasi.

“Kami ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi yang berhasil diputus oleh seseorang yang berani mengubah nasib diri dan keluarganya,” ujarnya.

Cerita film ini sendiri diketahui diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji. Yakni dengan menghadirkan sejumlah Aktor yang sudah dikenal di industri perfilman Indonesia, seperti Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Soleiman. 

Selain itu, RBMT juga menjadi debut layar lebar pertama bagi aktor pendatang baru seperti Jessy Davita, Nicholas Anderson, serta akademisi Rocky Gerung.

Keikutsertaan RBMT di kompetisi utama SIFF menambah daftar film Indonesia yang berhasil menembus festival internasional dalam beberapa tahun terakhir. 

Setelah menjalani penayangan perdana di Shanghai, pada 12–21 Juni 2026 mendatang, film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang ini dijadwalkan akan tayang di bioskop Indonesia pada akhir 2026.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment