Mabur.co – Meski telah tergerus oleh kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi, eksistensi permainan tradisional tidak sepenuhnya hilang begitu saja, khususnya pada periode musiman tertentu.
Salah satu momentum permainan tradisional yang cukup populer terjadi pada awal hingga pertengahan Agustus, atau yang biasa disebut “lomba 17-an”.
Dalam perayaan 17-an, biasanya setiap kampung atau pedesaan akan menyelenggarakan lomba atau kegiatan seru dengan melibatkan masyarakat sekitar, guna menyemarakkan momentum kemerdekaan Indonesia yang diperingati pada 17 Agustus.
Dan tentu saja, kegiatan yang dilangsungkan adalah permainan tradisional, seperti panjat pinang, makan kerupuk dengan mulut, tarik tambang, bermain bola dengan sarung, lomba balap karung, gobak sodor, dan masih banyak lagi.
Lomba-lomba tersebut tegolong cukup efektif, untuk kembali memperkenalkan permainan tradisional, sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan bangsa Indonesia sejak lama.
Apalagi ketika permainan tersebut dilakukan pada momen 17-an, alias momen kemerdekaan Indonesia, sehingga menambah kesan heroisme ketika berhasil memenangkan perlombaan atau permainan tersebut.
DIlansir dari laman LPKD, Minggu (7/6/2026), berikut adalah beberapa penjelasan sederhana, mengapa lomba 17-an terbilang efektif sebagai sarana melestarikan permainan tradisional.
1. Menciptakan Pengalaman yang Menyenangkan
Momentum lomba 17-an mampu mengubah pelestarian budaya menjadi kegiatan yang kompetitif dan menyenangkan, sehingga membuat generasi muda lebih antusias untuk mencoba dan belajar.
2. Penanaman Nilai Karakter
Dalam permainan tradisional khas 17-an seperti balap karung, tarik tambang, dan bakiak, semuanya mengajarkan nilai kerja sama, ketangguhan, dan sportivitas, yang tentu saja sangat baik untuk menanamkan nilai karakter kepada generasi muda.
3. Mendekatkan Kembali dengan Akar Budaya
Perayaan kemerdekaan secara massal juga menjadi momen yang tepat untuk mengangkat kembali kearifan lokal dan identitas bangsa, agar tidak punah akibat tergerus arus modernisasi.
***
Meskipun dunia telah berubah sedemikian rupa akibat kecanggihan teknologi dan permainan yang serba digital, namun nyatanya, perayaan 17-an di berbagai tempat masih tetap mempertahankan metode konvensional, yang lebih mengutamakan interaksi masyarakat sekitar.
Serta mengadakan perlombaan atau permainan tradisional yang sarat nilai-nilai luhur, yang nyaris tidak dimiliki oleh permainan canggih dan kekinian saat ini.
Sehingga bisa dibilang, permainan tradisional akan tetap selalu lestari, setidaknya di musim tertentu, dan tidak akan pernah ditinggalkan sepenuhnya oleh masyarakat, termasuk generasi muda. (*)

