Taman Sungai Mudal: Mata Air yang Menghidupi Warganya - Mabur.co

Taman Sungai Mudal: Mata Air yang Menghidupi Warganya

Mabur.co — Ekowisata Taman Sungai Mudal yang terletak di Kalurahan Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, menjadi salah satu destinasi wisata alam terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Tersembunyi di tengah rimbunnya hutan Perbukitan Menoreh, tempat wisata ini tak hanya dikenal di kalangan wisatawan domestik namun juga wisatawan asing dari berbagai negara.

Air jernih nan segar yang memancar dari celah batu kapur Pegunungan Menoreh, hingga membentuk sungai kecil dengan air terjun yang menawan menjadi daya tarik utama wisata alam unggulan di barat Yogyakarta ini. 

Ekowisata Taman Sungai Mudal. (Foto: JH Kusmargana)

Berawal dari Mata Air di Tengah Hutan

Nama Sungai Mudal sendiri berasal dari kata “mudal” yang dalam bahasa Jawa berarti keluar, menggambarkan mata air di kawasan ini yang tak pernah kering sepanjang tahun. 

Selain menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar selama bertahun-tahun, kini aliran air sungai ini juga bertransformasi menjadi ruang rekreasi alam yang mampu menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.

Sejak lama keberadaan sungai Mudal telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga di Dusun Banyunganti, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Sebelum dikenal luas wisatawan, mata air ini biasa digunakan warga untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga sumber irigasi lahan pertanian. 

Area sekitar yang semula tertutup semak belukar perlahan mulai dibersihkan oleh warga pada awal 2010-an untuk memudahkan akses dan memanfaatkan potensi kolam alami. Upaya swadaya ini ternyata justru menarik minat pengunjung dari luar wilayah desa hijgga memicu lahirnya gagasan pembentukan ekowisata. 

Pada 2015, kawasan tersebut akhirnya secara resmi dibuka sebagai destinasi wisata dengan Pengelolaan yang berfokus pada Ekowisata.

Ekowisata Taman Sungai Mudal. (Foto: JH Kusmargana)

Pengelolaan Berbasis Komunitas 

Rudi Hastaryo, selalu pengelola ekowisata Taman Sungai Mudal mengatakan, pengelolaan sungai Mudal dilakukan berbasis pada komunitas melalui kelompok sadar wisata atau pokdarwis setempat. Ia menekankan bahwa prinsip utama pengelolaan kawasan ini adalah menjaga keberlanjutan mata air sebagai sumber utama kehidupan warga sekaligus sumber kehidupan wisata. 

Karena itu ia selalu melibatkan semua pihak khususnya warga sekitar untuk bersama-sama mengelola kawasan ini. Hal ini dilakukan guna memastikan kelestarian dan keberlanjutan sumber mata air sungai mudal itu sendiri.  

“Air adalah inti dari semua aktivitas di sini. Kalau itu rusak, tujuan wisata ini pun runtuh,” ujarnya.

Harga Tiket yang Terjangkau

Dengan harga tiket masuk sekitar Rp10.000/orang pihak pengelola secara rutin menyisihkan sebagian pendapatan untuk dialokasikan ke berbagai keperluan mulai dari pemeliharaan, pemberdayaan masyarakat, hingga upaya konservasi. 

Selain bisa mandi dan berenang menikmati kesegaran air terjun alami, di sini pengunjung juga bisa melakukan sejumlah aktivitas mulai dari camping, trekking hingga melakukan kegiatan outbond.

Berjarak sekitar 30–36 km dari pusat Kota Yogyakarta, ekowisata taman Sungai Mudal dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 60–90 menit berkendara melalui Jalan Godean dan rute Girimulyo menuju Dusun Banyunganti. Jalan menuju lokasi telah beraspal meski beberapa bagian menanjak dan berkelok khas pegunungan. Pengunjung perlu berjalan sekitar 500 meter dari area parkir menuju sungai.

Ekowisata Taman Sungai Mudal. (Foto : JH Kusmargana)

Dikunjungi Ribuan Wisatawan Dalam dan Luar Negeri

Selama beberapa tahun terakhir, ekowisata Taman Sungai Mudal terus mencatatkan tren peningkatan jumlah kunjungan. Pada musim libur Lebaran atau akhir tahun sedikitnya sekitar 5000 hingga 8.000 wisatawan domestik mengunjungi tempat ini setiap bulannya. 

Sementara pada musim-musim tertentu jumlah wisatawan asing atau mancanegara bisa mencapai 400 hingga 500 orang per bulan. Baik itu dari Eropa seperti Belanda, Inggris, Irlandia hingga Finlandia maupun negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, atau Filipina.

Keberadaan ekowisata sungai Mudal kini mampu berkontribusi besar dalam menggerakkan perekonomian warga sekitar. Selain ikut menjadi pengelola, tak sedikit warga mendapat penghasilan dengan membuka warung, cinderamata, hingga homestay.

Tak heran jika Taman Sungai Mudal menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan potensi sumber daya alam berbasis komunitas yang tumbuh sebagai ruang hidup sekaligus magnet pariwisata yang tetap menjaga karakter alam sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakatnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *