Mabur.co– Bagi masyarakat Toraja, Ma’nene bukanlah hal yang menakutkan, melainkan wujud perayaan kehidupan, cinta, dan ikatan keluarga yang tak lekang oleh waktu.
Mereka percaya bahwa roh leluhur masih menjadi bagian dari keluarga dan harus terus dihormati. Kematian bagi mereka bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah transisi menuju kehidupan lain.
Jenazah Disimpan Bertahun-tahun
Oleh karena itu, jenazah sering kali tidak langsung dikuburkan, melainkan disimpan dalam rumah selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum upacara pemakaman yang besar (Rambu Solo’). Setelah dimakamkan, ikatan dengan leluhur tetap dijaga melalui tradisi seperti Ma’nene.
Melalui tradisi ini, masyarakat Toraja dapat menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam kepada mereka yang telah tiada.
Tradisi ini juga diyakini sebagai cara untuk meminta perlindungan dan berkat dari para leluhur agar panen berhasil, keluarga sejahtera, dan terhindar dari musibah.
Tradisi Ma’nene biasanya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali pada bulan Agustus. Seluruh anggota keluarga akan berkumpul dan pergi ke makam keluarga yang biasanya berbentuk gua atau tebing. Di sinilah prosesi inti Ma’nene dimulai.
Pemangku adat suku Toraja, Marten Paladan mengatakan, ritual Ma’nene adalah salah satu cara masyarakat Toraja untuk menghormati leluhur yang sudah lebih dulu meninggal dunia.
Menurutnya, suku Toraja memang sangat menjaga dan menghormati leluhur.
“Masyarakat Toraja itu selalu memperhatikan leluhurnya. Dari kepercayaan, jika orang Toraja tidak memerhatikan leluhur itu hidupnya tidak akan damai. Nah, Ritual Ma’nene dengan menggantikan baju nene’ dan membersihkan, itu sebagai bentuk penghormatan serta perhatian kepada leluhur,” jelas Marten dilansir detikSulsel, Rabu (10/6/2026).
Marten mengungkapkan, ritual Ma’nene pada dasarnya dilakukan 1 tahun sekali. Namun, dalam penyelenggaraannya yang memakan biaya cukup besar tidak semua satu rumpun keluarga berada di Toraja.
Berdasarkan hasil musyawarah adat atau Kombongan Kalua beberapa tahun lalu, disepakati bahwa ritual Ma’nene bisa dilaksanakan 3 tahun sekali.
“Dulu itu orang tua kita 1 tahun sekali. Tapi kan sekarang tidak semua masyarakat Toraja berada di Toraja, dan memang saat menggelar ritual itu memakan banyak biaya. Sehingga dulu ada Kombongan Kalua yang diinisiasi tokoh adat. Hasilnya, ritual Ma’Nene bisa dilaksanakan 3 tahun sekali,” ungkapnya.

