Mabur.co – Dibangun sekitar tahun 1900, Makam Astana Girigondo yang terletak di Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai kompleks pemakaman raja-raja Kadipaten Pakualaman.
Sebagaimana makam raja-raja Jawa lainnya, makam ini dibangun di atas puncak sebuah bukit sehingga nampak menjulang dan lebih tinggi dibanding tempat lain di sekitarnya.
Menempati lahan seluas 2 hektar, Makam Astana Girigondo dibangun menghadap ke arah laut selatan dengan 6 bagian teras utama.
Pada teras paling atas, terdapat sebuah gapura yang berbentuk paduraksa dengan angka tahun 1900 di bagian kanan, dan angka Jawa 1830 di bagian kirinya.

Sementara tepat di atas pintu gerbang terdapat tulisan Jawa “Girigondo” lengkap dengan logo Kadipaten Pakualaman beserta replika mahkota.
Untuk mencapai kompleks makam ini harus melalui tangga yang cukup terjal sebanyak 258 buah. Selain itu, terdapat tangga naik lain dari sisi barat mulai dari teras VI sampai teras II.
Di dalam teras tertinggi yang dikelilingi pagar dan pintu gerbang inilah, sejumlah Raja Kadipaten Pakualaman dimakamkan.
Yakni KGPAA Paku Alam V yang merupakan inisiator pembangunan Makam Girigondo. Serta makam KGPAA Paku Alam VI dan KGPAA Paku Alam VII, sampai dengan Paku Alam VIII.
Selain kelima Raja tersebut, teras pertama juga diisi makam dari setiap garwa dalem (permaisuri) dan putra-putrinya.

Sementara itu teras kedua diisi garwa ampeyan (istri selir) KGPAA Paku Alam V dan KGPAA Paku Alam VI, beserta makam cucu-cucunya.
Semakin ke bawah, maka posisi kerabat yang dimakamkan akan memiliki hubungan yang semakin jauh dari keluarga utama setiap Raja. Termasuk pada Abdi Dalem maupun juru kunci.
Namun yang menarik, meski berstatus Raja, Makam KGPAA Pakualam IX ternyata tidak berada di deretan teras utama.
KGPAA Paku Alam IX justru dimakamkan di kompleks bangunan baru yang terletak di bagian bawah atau sebelah barat tangga naik atau sekitar 100 meter di bawah kompleks utama.

Menurut Abdi Dalem Juru Kunci Makam Astana Girigondo, Wasiludin yang memiliki nama resmi Mas Riyo Rekso Winoto, hal itu dikarenakan kompleks pemakaman utama yang telah penuh.
“Jadi karena sudah penuh beliau dimakamkan di bagian bawah sisi barat. Berdekatan dengan makam permaisurinya, Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam yang lebih dulu wafat,” katanya.
Penempatan makam raja yang berada di bawah makam lainnya ini tentu tak lazim ditemui di kalangan bangsawan Jawa. Pasalnya biasanya, jika sebuah kompleks pemakaman Raja telah penuh, Raja terakhir yang mangkat akan dimakamkan di lokasi baru.
Hal ini terjadi pada keluarga raja Mangkunegara. Dimana makam Mangkunegara I hingga III dimakamkan di kompleks Astana Mangadeg, Matesih, Karanganyar.
Sementara, makam Mangkunegara IV hingga IX dimakamkan di kompleks berbeda yakni Astana Girilayu. Bahkan Mangkunegara VI memiliki makam tersendiri, khusus untuk permaisuri dan keturunannya yakni di kompleks Astana Utara di Nayu, Surakarta.

