Mabur.co- Harga komoditas minyak goreng dengan merek MinyaKita non-subsidi mengalami kenaikan. Hal ini membuat pedagang kebingungan. Lantaran, masyarakat lebih memilih MinyaKita subsidi yang sulit dicari.
Keterbatasan pasokan minyak goreng yang terjadi di Kota Yogyakarta, mengakibatkan harga salah satu kebutuhan pokok masyarakat tersebut mengalami kenaikan. Keterlambatan pengiriman menjadi kendala dalam memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran.
Pasokan Seret Satu Bulan
Salah satu pedagang Pasar Beringharjo, Sarjiyem mengatakan, ketidaklancaran dalam memasok minyak goreng premium sudah terjadi sekitar satu bulan.
Menurutnya, jangka waktu pemesanan dari pemasok ke pedagang membutuhkan waktu yang cukup lama. “Kalau biasanya lancar kan, hari ini order besok datang. Tapi ini nggak langsung datang, nunggu beberapa lama dulu,” katanya, Kamis (11/6/2026).
Sarjiyem menjelaskan, keterlambatan pengiriman minyak goreng yang bisa mencapai seminggu ini pun mengakibatkan kebutuhan sejumlah pelanggan tidak bisa maksimal terpenuhi.
Untuk merek premium seperti Fortune dan Sania yang biasa dijual kini kirimannya kerap tidak lengkap, atau kadang tidak siap.
“Penerapan pembatasan pembelian minyak goreng pun dilakukan terutama untuk pembeli dengan skala yang agak banyak,” katanya.

Sarjiyem mengatakan lagi, kenaikan harga minyak goreng berbanding terbalik terjadi untuk komoditas minyak goreng curah.
Menurutnya, pasokan relatif aman dan harganya cenderung lebih stabil.
“Minyak goreng curah Rp19.000, itu turun terus kok. Raketang (walaupun hanya) seribu dua ribu setiap jeriken, tapi turun. Sementara untuk komoditas minyak goreng yang paling banyak dicari masyarakat masih tetap MinyaKita,” ucapnya.

