Optimalkan Lahan Pesisir Pantai Dua Hektare, Panen Jeruk Dua Ton

3 Min Read
People harvest citrus fruit from a tree in a sunlit orchard, two individuals wearing headscarves and white shirts among green leaves.
Budi daya jeruk di lahan pasir. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Siapa bilang lahan pesisir pantai yang tandus dan berpasir tak bisa menghasilkan komoditas jeruk segar? Seorang warga Kulon Progo membuktikan hal itu salah besar. 

Basiran, salah seorang warga Kalurahan Garongan, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, sukses membudidayakan komoditas jeruk di lahan pertanian miliknya. 

Memanfaatkan lahan pesisir pantai yang didominasi tanah berpasir, ia menanam ratusan pohon jeruk buah lokal. Sistemnya sama seperti budi daya buah pada umumnya. Hanya saja proses penyiraman dilakukan secara rutin dengan intensitas lebih tinggi.

Optimalkan Lahan Pasir

“Karena lahan pasir otomatis harus sering disiram. Karena medianya tidak bisa menyimpan air,” katanya, Kamis (11/6/2026).

Selain rutin disiram, pohon jeruk yang ditanam di lahan pasir juga wajib dipupuk secara berkala baik itu dengan pupuk kandang maupun pupuk kimia.

Hal itu diperlukan agar pertumbuhan tanaman bisa berjalan maksimal. 

Baca Juga : Serunya Petik Jeruk Langsung di Kebun, Harga Sama di Pasar

Sejak awal tanam, pohon jeruk biasanya akan mulai berbuah pada usia 1,5 hingga 2 tahun. Yakni dengan masa panen setiap setahun sekali. Bila sudah berbuah tanaman akan rutin berbuah di setiap musimnya.

Basiran sendiri mengaku, mulai menanam jeruk sejak 3 tahun terakhir. Saat ini hampir semua tanaman sudah bisa dipanen. Bahkan ia sudah bisa memanen jeruk hingga dua kali musim, yakni tahun ini dan sebelumnya. 

Man in a light green hoodie stands in foreground at an outdoor gathering, with a crowd and a blue tent in the background under a clear sky.
Petani Jeruk asal Kulon progo Basiran (foto: JH Kusmargana)

“Saya mulai menanam sejak 2 3 tahun terakhir. Saat ini sudah dua kali panen,” ujarnya. 

Memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 2 hektare, pada masa panen tahun ini Basiran mengaku mampu mendapatkan sekitar 2 ton jeruk segar. Jumlah tersebut dikatakan menurun dibandingkan tahun lalu yang menembus 7 ton.

“Tahun ini hasil panen menurun drastis karena terpengaruh faktor cuaca. Kemarin musim penghujan maju, sehingga bunga tidak bisa muncul secara maksimal. Kalau musim kemarau berjalan seperti biasa hasilnya akan lebih maksimal,” katanya.

Meski produksi menurun, Basiran mengaku, tetap untung karena ia menerapkan sistem penjualan langsung ke konsumen tanpa melalui pengepul atau perantara. Caranya dengan membuka wisata petik buah jeruk langsung di kebun. 

Dengan cara ini, ia pun bisa menjual jeruk hasil panen dengan harga yang sama di pasaran yakni sekitar Rp20 ribu per kilogramnya. Sehingga jika mendapat hasil panen sebanyak 2 ton jeruk maka pemasukannya pun bisa mencapai Rp20 juta rupiah setiap musimnya.

Perawatan Mudah dan Panen Berulang Kali

Basiran sendiri mengaku memilih menanam jeruk karena sejumlah pertimbangan. Mulai dari perawatannya yang relatif mudah, sekali tanam namun bisa panen berulang-ulang, serta masih jarang ditanam petani sehingga minim pesaing. 

Disamping itu dari sisi harga, penjualan komoditas buah seperti jeruk juga relatif stabil dibanding komoditas lainnya seperti sayuran baik itu cabai, bawang merah, terong, tomat, dan sebagainya yang selalu mengalami fluktuasi harga setiap harinya.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment