Mabur.co- Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia, memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian nasional.
Pasalnya, pelemahan nilai rupiah ini akan menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pangan dan barang di mana hampir semua pasokan pangan berasal dari impor.
Belum lagi kenaikan harga BBM semakin memberikan dampak bagi ekonomi masyarakat kelas menengah, industri dan pelaku usaha.
Dosen FEB UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D.,mengatakan, terkait dampak kenaikan Pertamax, khususnya untuk kelas menengah.
Memicu Pergeseran Konsumsi
Kenaikan ini akan memicu pergeseran konsumsi Pertamax ke Pertalite bagi kelas menengah sehingga akan muncul kelangkaan ke depannya.
Apabila kelas menengah memutuskan tetap menggunakan Pertamax, maka kelas menengah akan mengurangi konsumsi pos lain dan mengurangi keluar rumah.
“Overall, akan berdampak juga ke kelas rentan dan miskin. Karena kelas ini membutuhkan konsumsi dan spending dari kelas menengah,” katanya, saat diwawancarai via telepon, Kamis (11/6/2026).

Wisnu mengatakan lagi, salah satu faktor yang memberi tekanan pada perekonomian adalah terganggunya pasokan energi global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang panjang.
Menurutnya, imbas dari hal itu masih terjadi, pasokan minyak dan gas terganggu berdampak langsung pada industri yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku berbasis minyak, seperti industri Petrokimia.
“Ketika harga minyak itu tinggi, maka perusahaan akan melihat, apakah kemudian dapat menaikkan harga. Ke depan kemungkinan, dugaan saya, akan ada dorongan kenaikan. Tetapi penyebabnya bukan hanya BBM saja. Namun juga faktor lain, seperti harga logistik naik, dan juga nilai tukar yang melemah,” katanya.

