Mabur.co – Dampak dari pandemi Covid-19 pada 2020 lalu benar-benar dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk tingkatan paling bawah.
Meskipun pandemi itu sendiri sudah tidak lagi menjadi permasalahan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, namun dampaknya masih terus dirasakan oleh banyak pihak, bahkan hingga bertahun-tahun.
Salah satunya juga dialami oleh kawasan wisata Jogja Youth Farming, yang berlokasi di Watu, Argomulyo, Sedayu, Bantul.
Kawasan ini dulu merupakan lokasi Karang Taruna Kalurahan Argomulyo guna melakukan aktivitas bertani, bercocok tanam, mendaur ulang sampah non-organik untuk dijadikan kerajinan dan produk lainnya. Lalu memiliki rumah makan yang menyediakan produksi hasil pertanian di sana, dan seterusnya.
Namun setelah Covid-19 melanda seluruh dunia pada 2020 silam, kawasan ini mulai tidak terurus, sehingga ragam pertanian dan produk kerajinan yang ada mulai tidak terawat, sehingga pengelolaannya pun ikut terbengkalai, bahkan sampai empat tahun lamanya.
Kemudian pada 2024 lalu, pemerintah desa Argomulyo akhirnya mengambil alih pengelolaan Jogja Youth Farming dari pihak Karang Taruna Argomulyo, sehingga kawasan ini diupayakan untuk kembali hidup, dan membawa kebermanfaatan bagi masyarakat di Argomulyo, Kecamatan Sedayu, dan DIY serta nasional pada umumnya.
Angkat Potensi Wisata
“Dulu (sebelum Covid) di sini itu rame, terus habis Covid itu kita collapse. Karena Karang Taruna itu kan harusnya tetap menjalankan kegiatannya (mengelola Jogja Youth Farming) tapi mungkin kurang koordinasi pada saat itu. Akhirnya berhenti (vakum) sampai tahun 2024 kemarin diambil alih Pemerintah Kalurahan Argomulyo.

Jadi kita berusaha untuk mengangkat potensi wisata yang ada di sini, supaya bisa berkembang lagi seperti dulu,” ucap Susi Astanti, pengelola Jogja Youth Farming, saat ditemui di kawasan Jogja Youth Farming, Jumat (12/6/2026).

Distribusi Produk untuk KDMP
Selain berusaha membangkitkan potensi wisata lokal, Jogja Youth Farming juga telah mendapat kepercayaan untuk mengelola budidaya ikan nila sistem bioflok, sebagai bagian dari distribusi produk yang dipasarkan di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang ada di Desa Argomulyo.
“Kita ingin bersinergi dengan banyak pihak, dan juga untuk ketahanan pangan dari proyek (Kopdes) Merah Putih ini. Serta budidaya ikan bioflok yang ada di sini. Jadi ada panen nila, terus kita buat menu makanan sama rumah makan di sini. Buat makan ibu-ibu dan masyarakat sekitar supaya mengenalkan kulineran yang kita punya,” sambung wanita yang juga Ketua TP PKK Argomulyo ini.
Sedikit demi sedikit, pemerintah desa Argomulyo berusaha membuat Jogja Youth Farming kembali dikenal masyarakat luas, sehingga mampu memberdayakan sekaligus mensejahterakan masyarakat sekitar, dengan menonjolkan setiap potensi wisata yang dimiliki saat ini. (*)

