Mabur.co – Tak banyak yang tahu Indonesia ternyata menyimpan warisan budaya luar biasa yang diyakini sebagai salah satu layang-layang tradisional tertua di dunia.
Selain dipercaya telah ada sejak ribuan tahun silam, layang-layang satu ini juga sangat unik karena seluruh bahannya dibuat dari alam, baik itu daun-daunan, batang pohon hingga serat buah-buahan.
Layang-layang itu disebut Kaghati Kolope, yang berasal dari Desa Liangkobhori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Layang-layang Tertua di Dunia
Kementerian Pariwisata dalam website resminya yang diakses mabur.co, Rabu (24/6/2026), menyebut bahwa Kaghati Kolope sebagai salah satu layang-layang purba tertua di dunia.
Keberadaan layang-layang purba ini diperkuat oleh temuan gambar layang-layang pada dinding Gua Liangkobhori, yang merupakan situs purbakala terkenal di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Diperkirakan usia lukisan di gua-gua karst ini bahkan mencapai 4000 tahun lebih.
Hal ini pun menjadikan layang-layang Kaghati Kolope sebagai bagian penting dari warisan sejarah dan identitas budaya masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara.
Berbeda dengan layang-layang modern yang menggunakan plastik atau kertas sintetis, Kaghati Kolope dibuat dari bahan alami yakni daun ubi hutan atau daun kolope.
Sementara kerangkanya dibuat menggunakan bambu buluh. Sedangkan talinya berasal dari serat nanas hutan yang dikenal masyarakat setempat sebagai ghurame.
Keunikan itulah yang membuat Kaghati Kolope menjadi ikon utama Desa Wisata Liangkobhori sekaligus daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sebuah jurnal penelitian tahun 2019 dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo, Kendari, menyatakan bahwa layang-layang purba asal Kabupaten Muna ini dikenal dengan nama Kaghati Kolope.
Nama tersebut merujuk pada proses pembuatannya yang dilakukan dengan cara menjepit lembaran daun kolope menggunakan rangka bambu hingga membentuk layang-layang.
Dalam bahasa Muna sendiri, kaghati berarti jepitan, sementara roo berarti daun, dan kolope berarti ubi hutan.
Seperti layang-layang tradisional yang ditemui saat ini, Kaghati Kolope juga dilengkapi alat bunyi yang disebut kamuu. Saat diterbangkan, kamuu akan menghasilkan suara khas yang menjadi ciri unik layang-layang tradisional Muna.
Keberadaan layang-layang purba Kaghati Kolope sendiri telah menarik minat berbagai peneliti dunia untuk datang ke Kabupaten Muna.
Lebih Tua dari Layang-layang Purba Cina
Bahkan seorang ahli layang-layang asal Jerman, Wolfgang Bieck, pernah melakukan penelitian di Muna dan menemukan relief layangan tersebut diperkirakan berasal dari zaman Epipaleolithic (sekitar 9000-9500 sebelum Masehi).
Itu artinya, Kaghati Kolope diperkirakan memiliki usia yang jauh lebih tua daripada layang-layang purba yang ditemukan di Cina.
Untuk mengenalkan sekaligus menjaga tradisi pembuatan layang-layang Kaghati Kolope, pemerintah setempat saat ini rutin menyelenggarakan festival layang-layang purba di Desa Liangkobhori setiap tahunnya.
Festival ini pun mampu menarik banyak pengunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang untuk mengenal dan melihat langsung proses pembuatan hingga cara menerbangkan layang-layang purba ini.

