Uang Kuno, Dibeli untuk Mahar?

3 Min Read
Display of Indonesian banknotes in plastic sleeves arranged on shelves, showing multiple colorful denominations of Rupiah.
Uang jadul bergambar presiden pertama RI Soekarno menjadi salah satu uang yang paling dicari para kolektor. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Pasar Kangen Jogja, menawarkan berbagai barang yang jarang ditemui. Satu di antaranya adalah mata uang kuno.

Bagi sebagian orang mengoleksi mata uang kuno bisa jadi penghasilan yang menjanjikan. Satu di antaranya adalah Musa, kolektor mata uang di Pasar Kangen Jogja.

Store interior with rows of laminated currency notes hanging from strings; a person sits at a cluttered counter handling papers and small items.
Musa, kolektor mata uang di Pasar Kangen Jogja, sedang menata dagangannya. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Musa mengatakan, memiliki koleksi uang koin dan kertas dari zaman VOC, Belanda, Jepang, Orde Lama, hingga Reformasi. Ada pula uang dari luar negeri.

“Uang koin itu terbuat dari berbagai macam bahan seperti aluminium, tembaga, perak, nikel, dan emas,” ujarnya, saat ditemui di stannya, Minggu (28/6/2026).

Musa menuturkan, uang koin dan kertas yang dibeli termasuk barang yang laku tiap hari. Uang tersebut biasa digunakan sebagai mahar perkawinan.

Tapi, ada pula wisatawan yang membeli untuk keperluan mengajar di sekolah atau sekadar untuk asesoris pada baju atau kalung.

“Umumnya dibeli untuk mahar, yang satu rupiah, lima rupiah. Kadang buat koleksi termasuk guru SD, SMP, SMA khusus sejarah untuk medium pembelajaran. Ada juga yang nostalgia makanya beli,” jelasnya.

Pile of old banknotes in plastic sleeves in a box, various currencies and denominations visible.
Uang kuno biasa digunakan sebagai mahar perkawinan. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Musa mengatakan lagi, mulanya pun dia tak menduga sama sekali bahwa bermula dari hobi ternyata bisa menghasilkan rejeki.

“Hobi mengoleksinya cukup menarik, sebab ada keasyikan tersendri saat dapat menemukan uang yang belum pernah ia lihat,” ucapnya.

Assorted coins organized in clear plastic compartments and trays.
Uang koin terbuat dari berbagai macam bahan seperti aluminium, tembaga, perak, nikel, dan emas. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Musa mengatakan pula, uang jadul bergambar presiden pertama RI Soekarno menjadi salah satu uang yang paling dicari para kolektor.

Langkanya uang kuno bergambar Soekarno membuat harga jualnya menjadi cukup tinggi.

“Sosok Soekarno merupakan pemimpin yang begitu fenomenal dan bersejarah sehingga banyak kolektor yang ingin mengumpulkan uang dengan gambar Sang Proklamator tersebut,” katanya.

Pile of old copper coins with green patina scattered in a container.
Koleksi uang koin dari zaman VOC, Belanda, Jepang, Orde Lama, hingga Reformasi. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Musa menuturkan, saya memiliki lembaran uang Soekarno dengan nominal Rp 1, Rp 100, dan Rp 1.000. Untuk uang dengan nominal Rp 1, dihargai sekitar Rp 100.000. “Namun, nominal Rp 1.000 dihargai Rp 1,5 juta. Kondisi fisik uang kuno memengaruhi harga jualnya,”ucapnya.

Display of vintage Indonesian banknotes in a grid arrangement showing various denominations and designs.
Pasar kangen Jogja, menawarkan berbagai barang yang jarang ditemui satu di antaranya adalah mata uang kuno. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Musa mengatakan pula, jika terdapat cacat, bisa saja harga uang turun bahkan tidak laku dijual.

“Hal itu yang membuat saya berhati-hati membeli uang yang dijual oleh orang lain. Ini karena dia harus menjual lagi uang tersebut dengan harga yang lebih tinggi,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment