Jarang Ditemui, Eksistensi Penjual Kapal Otok-otok di Era Modern

3 Min Read
Close-up of colorful miniature pink and red toy boats with blue sails on a blue wooden surface
Kapal-kapalan kaleng lazim disebut kapal 'tok-tok'. Sebuah mainan buatan tangan terbuat dari kaleng bekas. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co– Anak-anak kelahiran 80-90-an akrab dengan salah satu mainan yang kini jarang ditemui, adalah kapal-kapalan kaleng lazim disebut kapal otok-otok.

Sebuah mainan buatan tangan dari kaleng bekas. Sebagaimana kapal, mainan ini pun dimainkan di atas air. Biasanya dimainkan di dalam bak bulat yang berisi air agar kapal bisa berjalan memutar.

Ardi, terlihat sedang asyik menyusun puluhan mainan di atas meja berukuran satu meter persegi, di kawasan Pasar Kagen Jogja.

Ia menjual mainan jadul, kapal otok-otok. Perkembangan teknologi yang makin pesat tidak menyurutkan Ardi menjajakan mainan asli Indonesia itu.

A man in a black T-shirt arranges colorful paper boats on a stall table beside a large tub of water at a market.
Ardi, terlihat sedang asyik menyusun puluhan mainan di atas meja berukuran satu meter persegi, di kawasan Pasar Kangen Jogja. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Ardi mengatakan, mainan kapal otok-otok tetap disukai. Meskipun tidak sepopuler zaman dulu.

Untuk membuat kapal bisa berjalan sebagaimana sebuah kapal, kapal harus diisi dengan air melalui lubang pada belakang kapal. Selanjutnya sumbu yang terdiri dari kapas dan minyak goreng dinyalakan, dan ditaruh di bagian dalam kapal. Api yang menyala akan membuat air yang telah dimasukkan sebelumnya mendidih.

Suara Tok-Tok-Tok

Uap dari air mendidih tersebut akan keluar ke pipa yang akan membuat kapal bisa bergerak. Saat berjalan kapal akan mengeluarkan suara tok-tok-tok, sehingga disebut otok-otok.

“Sekaligus mengeluarkan asap dari cerobong, sehingga tampak seperti kapal api sungguhan. Permainan yang sempat jaya di masa silam ini kini dijual 15 ribu rupiah per buah,” katanya, saat ditemui di stan Pasar Kangen Jogja, Minggu (28/6/2026).

Ardi mengatakan pula, anak-anak zaman now (sekarang) sudah kurang tertarik dengan mainan jadul tersebut. Jika tidak dikenalkan, mainan tradisional akan hilang tanpa bekas.

“Sekarang banyak anak-anak yang tidak mengenal mainan ini karena sudah jarang orang tua yang memperkenalkannya. Padahal mainan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Mainan ini sudah ada sejak zaman Belanda. Makanya dibilang mainan asli Indonesia,” ujarnya.

Ardi mengatakan pula, kapal otok-otok merupakan mainan tradisional Indonesia dengan panjang 20 cm, lebar 5-6 cm, dan tinggi 4 cm.

Beredar sejak tahun 1980-an. Nama otok-otok diambil dari bunyi “klotok…klotok..” yang dihasilkan ketika kapal berlayar. Mainan ini juga memiliki tenaga penggerak yang berasal dari kapas yang diberi minyak goreng dan dinyalakan. Sehingga bergerak layaknya kapal mesin uap.

Meskipun tidak secanggih mainan saat ini, kapal otok-otok masih memiliki peminat. Mainan tersebut juga dapat bertahan lebih lama dibanding mainan modern.

“Jika tenggelam hanya perlu mengganti kapas dan menambah minyak goreng sebagai bahan bakarnya saja,” ujarnya.

Vendor stall with rows of colorful flip-flops arranged on a table while a seated man points to items and a man stands nearby with a child watching in the background.
Salah satu pembeli, Ryan sedang menanyakan harga kapal otok-otok kepada penjual. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Sementara itu, salah satu pembeli, Ryan mengatakan, membeli kapal otok-otok untuk anaknya agar ia bisa bernostalgia seperti 20 tahun silam. Sekaligus mengajak anak agar tidak selalu tergantung dengan permainan di HP yang tidak menimbulkan pengalaman.

“Biar ngerasakan permainan zaman dulu, kini mainan di HP semua. Jangankan main kapal-kapal kayak gini, main mobil-mobilan pake tali aja sudah jarang anak-anak sekarang,” katanya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment