Mabur.co- Pasar Kangen Jogja, menawarkan berbagai barang yang jarang ditemui. Satu di antaranya adalah mata uang kuno.
Bagi sebagian orang mengoleksi mata uang kuno bisa jadi penghasilan yang menjanjikan. Satu di antaranya adalah Musa, kolektor mata uang di Pasar Kangen Jogja.

Musa mengatakan, memiliki koleksi uang koin dan kertas dari zaman VOC, Belanda, Jepang, Orde Lama, hingga Reformasi. Ada pula uang dari luar negeri.
“Uang koin itu terbuat dari berbagai macam bahan seperti aluminium, tembaga, perak, nikel, dan emas,” ujarnya, saat ditemui di stannya, Minggu (28/6/2026).
Musa menuturkan, uang koin dan kertas yang dibeli termasuk barang yang laku tiap hari. Uang tersebut biasa digunakan sebagai mahar perkawinan.
Tapi, ada pula wisatawan yang membeli untuk keperluan mengajar di sekolah atau sekadar untuk asesoris pada baju atau kalung.
“Umumnya dibeli untuk mahar, yang satu rupiah, lima rupiah. Kadang buat koleksi termasuk guru SD, SMP, SMA khusus sejarah untuk medium pembelajaran. Ada juga yang nostalgia makanya beli,” jelasnya.

Musa mengatakan lagi, mulanya pun dia tak menduga sama sekali bahwa bermula dari hobi ternyata bisa menghasilkan rejeki.
“Hobi mengoleksinya cukup menarik, sebab ada keasyikan tersendri saat dapat menemukan uang yang belum pernah ia lihat,” ucapnya.

Musa mengatakan pula, uang jadul bergambar presiden pertama RI Soekarno menjadi salah satu uang yang paling dicari para kolektor.
Langkanya uang kuno bergambar Soekarno membuat harga jualnya menjadi cukup tinggi.
“Sosok Soekarno merupakan pemimpin yang begitu fenomenal dan bersejarah sehingga banyak kolektor yang ingin mengumpulkan uang dengan gambar Sang Proklamator tersebut,” katanya.

Musa menuturkan, saya memiliki lembaran uang Soekarno dengan nominal Rp 1, Rp 100, dan Rp 1.000. Untuk uang dengan nominal Rp 1, dihargai sekitar Rp 100.000. “Namun, nominal Rp 1.000 dihargai Rp 1,5 juta. Kondisi fisik uang kuno memengaruhi harga jualnya,”ucapnya.

Musa mengatakan pula, jika terdapat cacat, bisa saja harga uang turun bahkan tidak laku dijual.
“Hal itu yang membuat saya berhati-hati membeli uang yang dijual oleh orang lain. Ini karena dia harus menjual lagi uang tersebut dengan harga yang lebih tinggi,” katanya.

