Peta Kuno, Banyak Diburu Kolektor dan Mahasiswa

3 Min Read
Seorang pengunjung sedang melihat-lihat peta kuno astronomi. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Dalam kehidupan modern sekarang ini, pentingnya peranan peta tak diragukan lagi. Tidak hanya untuk sektor perdagangan dan perhubungan yang memerlukan peta, tetapi sektor kehidupan yang lain pun membutuhkan peta untuk kelancaran pengelolaan.

People browse a busy stall filled with books, posters, and maps laid out on tables and shelves
Seorang pengunjung sedang melihat-lihat peta kuno. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Salah satu penjual peta di stan Pasar Kangen Jogja, Suryo mengatakan, ide awal berjualan peta kuno karena melihat di Pasar Kangen Jogja yang jualan belum banyak. Dari peta-peta kuno tersebut dapat pula diketahui betapa intensifnya jalan pelayaran menuju atau melintasi Nusantara.

“Pada awalnya peta dibuat dengan cara dilukis atau digambar dengan tangan, biasanya disebut peta manuskrip. Tahap berikutnya orang mulai mencetaknya secara sederhana, dengan alat cetak cukilan kayu atau kuningan. Tentu kapasitas alat cetak seperti ini sangat terbatas. Pada perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan teknologi baru dibuat secara modern, tidak hanya dalam pencetakannya, alat-alat pembuatannya pun dibuat modern, sehingga peta yang dihasilkan betul-betul akurat,” katanya, saat ditemui, Minggu (28/6/2026).

Antique illustrated map spread on a table, showing coastlines, ships, and a compass rose at a market stall.
Peta kuno Pulau Jawa. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Suryo mengatakan, perkembangan peta di Indonesia sampai pada masa sebelum VOC tidak banyak diketahui, namun ada beberapa peta kuno pada abad pertengahan telah terlihat menggambarkan sebagian dari kepulauan Indonesia.

“Dalam perjalanan sejarah peta kuno Indonesia memberi arti yang sangat penting dalam hubungan dengan dunia luar,” ucapnya.

Ada Sejak Abad Pertengahan

Suryo mengatakan lagi, peta yang menggambarkan tentang kepulauan Indonesia sudah mulai ada sekitar abad pertengahan meskipun masih dalam bentuk yang sederhana dan sangat global.

Memasuki zaman kolonial (abad ke16 sampai abad ke-19) peta-peta yang menggambarkan tentang Indonesia mulai dibuat secara lebih detail, khususnya peta-peta yang menggambarkan kota pelabuhan dagang seperti Batavia, Banten, Maluku dan sebagainya.

“Peta ini dibuat untuk keperluan komersial VOC pada waktu itu,” katanya.

Suryo menjelaskan, peta merupakan salah satu sumber informasi dan komunikasi yang berkaitan dengan aspek kebumian. Dengan sifat informasi sekaligus sebagai alat komunikasi yang terkandung dalam suatu peta kita dapat menginterpretasi dan menganalisis serta berkomunikasi dengan peta.

“Pemanfaatan peta sekarang ini semakin meluas, terutama semenjak adanya konsep perencanaan dan pembangunan wilayah,” katanya.

Close-up of a middle-aged man with short gray hair wearing a black T-shirt with a red-yellow graphic, standing outdoors at night beside a white column.
Penjual peta kuno, Suryo saat ditemui di Pasar Kangen Jogja. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Suryo mengatakan, peta mempunyai fungsi atau manfaat yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain sebagai alat peraga perencanaan, alat analisis dan pelaporan, dan yang paling penting lagi sebagai alat untuk mempelajari hubungan timbal balik antara fenomena-fenomena geografis di permukaan bumi.

“Peta yang menunjukkan informasi pada seluruh muka bumi menunjukkan generalisasi dan hubungan timbal balik dari pola permukaan bumi secara luas,” katanya.

Suryo menjual peta dengan harga Rp 50.000 ukuran besar, yang kecil harganya Rp 25.000.

“Biasanya saya jualan di online. Sedangkan peminat peta kuno kebanyakan para kolektor, mahasiswa yang jurusan geografis karena untuk pembelajaran mata kuliah,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment