Mabur.co – Beberapa daerah di Indonesia umumnya memiliki candi, sebuah bangunan berupa batu-batu yang saling mengunci satu sama lain tanpa menggunakan semen. Tempat ini menjadi sarana beribadah dan pemujaan bagi agama Hindu dan Buddha, serta media untuk memuliakan raja yang telah meninggal.
Selain sebagai tempat beribadah dan memuliakan raja, beberapa candi juga dijadikan sebagai destinasi wisata edukasi, sejarah, serta budaya bagi masyarakat umum, seperti di Candi Prambanan, Borobudur, Ratu Boko, dan sebagainya.
Namun pernahkah Anda berpikir, mengapa bangunan candi seperti Prambanan dan seterusnya itu selalu identik dengan dua agama tersebut? Dan mengapa pengaruhnya masih terus bertahan hingga saat ini?
Dilansir dari laman Institut Nalanda, Selasa (30/6/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya dari kedua pertanyaan di atas.
1. Menjalankan Fungsi Keagamaan
Sebagaimana sejarahnya, candi memang berasal dari periode klasik Hindu-Buddha di Nusantara (sekitar abad ke-5 hingga ke-16 Masehi). Istilah “candi” sendiri berasal dari kata “candika”, yakni salah satu nama perwujudan Dewi Durga, yang merupakan dewi kematian.
Oleh karena itu, fungsi utama candi memang sangat erat dengan pemujaan roh leluhur atau tempat pendharmaan (makam) raja dan pendeta yang telah wafat, serta menjalankan ibadah untuk agama masing-masing.
2. Makna Filosofis Mendalam
Bangunan candi umumnya dirancang sebagai replika alam semesta (makrokosmos), yang dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa. Ujung bangunan yang biasanya menjulang tinggi (runcing) melambangkan tingkatan spiritual menuju kesempurnaan seorang manusia.
3. Akulturasi Budaya dari India
Agama Hindu dan Buddha sendiri berasal dari negara Asia Selatan, India. Kedua agama ini memiliki akar sejarah yang saling berkaitan satu sama lain, dan sama-sama dibawa ke Indonesia melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama yang terjadi pada abad ke-1 Masehi.
Sejak saat itu, pengaruh India ke Indonesia melalui kedua agama ini menjadi semakin kuat, di mana pembangunan candi merupakan hasil akulturasi dari konsep keagamaan India dengan budaya lokal Nusantara pada saat itu.
***
Meskipun berasal dari India, namun Indonesia tetap memiliki caranya sendiri dalam menyebarluaskan kedua agama ini. Salah satunya yang terjadi di Pulau Bali, yang menjadi mayoritas pemeluk agama Hindu terbanyak di Indonesia, yakni sekitar 87%.
Di pulau ini, masyarakat setempat juga melakukan akulturasi budaya khas Bali dengan ritual dari agama Hindu. Misalnya dengan mengadakan hari raya Galungan dan Kuningan, Upacara Ngaben, dan seterusnya. (*)

