Mabur.co – Piala Dunia 2026 menjadi event Piala Dunia pertama yang digelar di tiga negara, masing-masing di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Piala Dunia 2026 juga menjadi event Piala Dunia pertama, yang diikuti oleh 48 tim, sekaligus menjadi Piala Dunia dengan peserta terbanyak sepanjang sejarah, serta menjadi penyelenggaraan terlama dari yang pernah ada, yakni lebih dari satu bulan.
Di sisi lain, Piala Dunia kali ini juga berhasil menciptakan rekor unik lainnya, karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, tiga tuan rumah harus gugur atau tersingkir di ronde yang sama persis, yakni di babak 16 besar.
Baik Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, ketiganya harus mengakhiri petualangannya lebih cepat di turnamen bergengsi ini, setelah menelan kekalahan pada pertandingan yang dijalaninya masing-masing.
Kanada takluk 0-3 dari Maroko pada pertandingan pertama babak 16 besar, Minggu dini hari (5/7/2026), disusul Meksiko yang harus pulang akibat disingkirkan oleh Inggris dengan skor 2-3, Senin pagi (6/7/2026), dan terakhir Amerika Serikat juga harus pulang dan menjadi penonton di negaranya sendiri, akibat dihajar oleh Belgia dengan skor 1-4, Selasa pagi tadi (7/7/2026).
Dengan hasil tersebut, ketiganya harus mengubur impian untuk menjadi juara dunia di kandang sendiri, dan harus puas menjadi penonton untuk laga-laga sisa pada putaran berikutnya.
Tuan Rumah Bukan Jaminan Sukses
Dalam perhelatan event olahraga internasional seperti Piala Dunia, biasanya tim atau negara yang menjadi tuan rumah akan memiliki keunggulan tersendiri, baik secara fisik maupun psikologis.
Karena tuan rumah sudah pasti mengenal lokasi pertandingan (stadion) yang akan jadi venue pertandingan, serta mendapatkan support penuh dari masyarakat setempat, yang tidak perlu bepergian jauh-jauh ke negara lain untuk mendukung negaranya sendiri.
Namun, semua itu nyaris tidak begitu berlaku pada edisi 2026 kali ini, di mana Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, semuanya tidak berdaya menghadapi negara-negara jagoan dari Eropa maupun Amerika Latin, yang memang memiliki tradisi sepakbola yang lebih kuat ketimbang ketiga negara tuan rumah.
Meskipun perjalanan awal ketiganya di fase grup dan babak 32 besar cenderung mulus, namun saat menghadapi lawan-lawan yang lebih berat di fase 16 besar, jalan menuju ke sana (juara dunia) menjadi sangat terjal, hingga akhirnya harus takluk secara bersamaan di ronde yang sama.
Dalam sejarahnya, kiprah tuan rumah Piala Dunia di ajang ini memang tidak selalu berjalan mulus sesuai ekspektasi fans tuan rumah.
Adapun terakhir kali tuan rumah Piala Dunia yang sanggup melenggang mulus sampai menjadi juara adalah Prancis, yang meraih gelar juara dunia bersama Zinedine Zidane pada 1998 silam.
Sejak saat itu, tim-tim tuan rumah selalu keok di fase-fase awal, bahkan ada juga yang langsung keok di babak fase grup, yakni Afrika Selatan pada edisi 2010, dan Qatar pada 2022 silam.
Dominasi Benua Eropa
Di sisi lain, tim-tim asal benua Eropa masih mendominasi ajang empat tahunan ini, serta masih menyisakan banyak wakil di babak perempat final atau 8 besar, yang akan dimainkan mulai Jumat dini hari (10/7/2026) waktu Indonesia.
Wakil-wakil Eropa yang masih tersisa yakni Prancis, Norwegia, Inggris, Spanyol, Belgia, serta Swiss, yang masih akan menjalani pertandingan 16 besar pada Rabu dini hari nanti (8/7/2026).
Jika meilihat dari perjalanan Piala Dunia sampai babak 16 besar saat ini, maka besar kemungkinan bahwa gelar juara dunia akan kembali jatuh ke tim-tim dari benua Eropa. Mengingat tradisi sepakbola di benua Eropa memang sudah sangat kuat, dan sudah menjadi kiblat sepakbola dunia sejak puluhan tahun lamanya.
Hanya saja, meskipun di atas kertas negara-negara Eropa masih lebih unggul dari benua-benua lainnya, namun jangan lupakan juga, bahwa sepakbola itu bundar, dan apapun masih bisa terjadi.
Satu hal yang pasti, kegagalan tiga negara tuan rumah di Piala Dunia kali ini menjadi semacam bukti, bahwa status tuan rumah tidak selalu menjamin keberhasilan mereka bisa melaju mulus hingga ke tangga juara.
Banyak jalan terjal yang harus dilalui di masing-masing ronde, dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, dan seterusnya. (*)

