Mabur.co– Di kota-kota besar di sejumlah negara maju, sepeda masih menjadi transportasi bagi warga untuk aktivitas utama sehari-hari, seperti untuk ke sekolah dan bekerja.
Salah satunya Belanda, yang bersemangat ingin mengajak Indonesia mempromosikan besar-besaran sepeda sebagai alat transportasi andalan untuk pergi ke sekolah dan bekerja.
Hal ini tentu memantik ingatan pada Kota Yogyakarta, yang dulu juga pernah membayangkan ingin mengembalikan julukan Yogyakarta Kota Sepeda seperti era 1980. Lahirlah gerakan Sego Segawe, yang dalam pasang surutnya, kini justru betul-betul surut.
Surutnya Kebijakan Sego Segawe
Gerakan Sego Segawe kependekan dari Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (sepeda untuk sekolah dan bekerja).
Gerakan ini diluncurkan sebagai program resmi Pemkot Jogja tahun 2008. Sego Segawe diluncurkan tahun 2008 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono (HB) X bersama Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.
Mantan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, membuat program itu di antaranya untuk merespons isu perubahan iklim atau pemanasan global. Sudah sejak tahun 2006 menjadi isu dunia.
“Saya juga berpikir Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota pelajar. Mestinya kalau kita bicara kota pendidikan kita harus bicara pembaharuan. Kota Yogyakarta katanya istimewa. Mesti ada pembaharuan. Kemudian saya pernah mengalami bagaimana Kota Yogyakarta itu menjadi kota sepeda. Era waktu saya masih SMP. Waktu itu hampir semua orang bersepeda,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Herry Zudianto menuturkan, program bersepeda itu sesungguhnya sesuatu yang sangat memungkinkan sekali untuk digalakkan kembali.
Bukan untuk nostalgia karena dari sisi jarak, dari sisi elevasi kota segala itu, tidak naik turun dan sebagainya. Oleh sebab itu, selalu terpetik pikiran, bagaimana Kota Yogyakarta kalau bisa terus jadi kota ramah bersepeda.
Tentu akan selalu menarik jika senantiasa digalakkan juga untuk bekerja. Waktu itu targetnya sebetulnya adalah sampai sekolah SMA untuk jarak tertentu. Murid jarak tertentu harus naik sepeda karena itu juga bisa mengikis hedonisme (kesenangan), jor-joran motor, dan sebagainya. Kembali ke keakraban.
“Orang naik sepeda itu pasti bertingkah laku lebih soft (santai), tidak mungkin orang bersepeda itu urakan (tidak tahu sopan santun). Jadi dimulai dari klaim seperti. Intinya adalah untuk kepeloporan. Saya sempat buat kalau di perempatan jalan itu sepeda harus di depan. Saya buatkan kotak khusus. Terus kemudian jalur-jalur sepeda yang lewat kiri apa kampung-kampung, saya kasih petunjuk dan sebagainya,” katanya.
Pemimpin sebagai Ikon
Menurut Herry, sebetulnya sambutan program Sego Segawe dulu bagus sekali. Tetapi memang belum sempat menjadi budaya massif, menjadi sesuatu FOMO (Fear Of Missing Out), rasa takut dan cemas tertinggal akan tren.
Menurut Herry pula, suatu perubahan pemimpinnya harus bisa nyontoni (memberi contoh). Waktu dulu bicara gerakan Sego Segawe, maka Herry pun berusaha memposisikan diri sebagai ikon.
“Saya ke kantor juga naik sepeda, kalau dekat-dekat juga mau ke mana naik sepeda. Yang jelas kantor ke rumah itu naik sepeda, terus saya ikuti berbagai acara sepeda. Saya ikut memeriahkan acara klub-klub sepeda. Akhirnya tumbuh sampai ada Jogja Last Friday Ride (JLFR). Saya juga aktif mengikuti. Gerakan bersepeda seperti Jogja Last Friday Ride (JLFR) itu bagus daripada klitih. Karena dengan bersepeda kita akan lebih akrab,
Pengalaman saya kalau naik sepeda itu anak-anaknya tidak ada yang garang, kegarangan kalau naik sepeda itu akan hilang karena lokalistiknya itu akan muncul. Pengalaman saya justru itu menjadi bagian penting dari kartu sosial untuk anak muda. Ingin eksistensi yang sehat. Kalau saya itu justru malah didukung. Dulu saya fasilitasi,” ungkap Herry.
Menurut Herry, jika semua orang Yogyakarta memakai motor, pasti malah amburadul. Justru dengan sepeda sebenarnya sangat mudah diatur, sangat mudah untuk dikondisikan. Sego Segawe pun tidak hanya untuk nostalgia, mengingat kembali ke masa lalu.
Namun ikut memberikan sumbangsih ke depan. Mengurangi pemanasan global, menjaga kebugaran, dan menghilangkan sikap hedonis. Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan juga bisa menjadi contoh peradaban bersepeda yang mulia. ***
.

