Pameran ‘Daulat Sampah’, Seniman Kulon Progo Ekspresikan Limbah Sarat Makna

4 Min Read
Two men in black shirts with orange logos stand beside large driftwood sculptures and a ship model in an art gallery.
Suasana pameran 'Daulat Sampah' di Taman Budaya Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Kulonprogo – Tumpukan sampah kayu yang selama ini terbawa arus sungai hingga terdampar di muara biasanya hanya dianggap sebagai limbah tak berguna.

Tapi di tangan sejumlah seniman asal Kulon Progo, sampah organik berupa potongan batang pohon, akar, hingga ranting itu mampu disulap menjadi karya seni indah yang sarat akan makna.

Itulah yang coba ditampilkan dalam Pameran ‘Daulat Sampah’ yang digelar di Galeri Taman Budaya Kulon Progo pada 11 hingga 20 Juli 2026.

Menampilkan sekitar 90 karya dari 64 seniman yang mayoritas berasal dari Kulon Progo, pameran ini mengajak pengunjung untuk mendefinisikan kembali apa yang disebut sampah dan limbah.

Sebelum memasuki ruang pamer, pengunjung akan dibuat takjub dengan sejumlah instalasi unik yang dipasang di sekitar lokasi. 

Entrance framed by a large dried palm frond installation with a red poster behind the doorway.
Pintu masuk menuju ruang pamer. (Foto: JH Kusmargana)

Sebuah gerbang raksasa yang dibuat menggunakan bahan daun kelapa kering atau blarak nampak menyambut pengunjung.

Susunannya dibuat sedemikian rupa, seolah membawa pengunjung masuk ke sebuah ruangan, tepat di tengah kepakan bulu ekor merah yang mekar dengan megah.

Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung langsung disuguhi berbagai instalasi menarik, seperti sosok tokoh pewayangan Semar, miniatur perahu, hingga figur manusia, dan berbagai bentuk abstrak lainnya.

Limbah Kayu Bekas

Yang membuat semakin unik, seluruh karya instalasi tiga dimensi tersebut semuanya dibuat dengan memanfaatkan sampah atau limbah kayu bekas yang hanyut terbawa arus sungai sebelum akhirnya terdampar di kawasan pesisir.

Ditemui di sela acara, kurator pameran, Jajang R. Kawentar, menjelaskan bagaimana proses kreatif para seniman ‘Daulat Sampah’ menghasilkan karya-karya tersebut. 

“Teman-teman yang mengikuti ‘Daulat Sampah’ banyak menggunakan kayu yang terbawa arus sungai. Kayu-kayu itu kami ambil dari kawasan tepian muara, baik itu Muara Sungai Serang, Sungai Progo hingga Sungai Bogowonto. Setelah itu baru kemudian dibentuk menjadi karya seni,” katanya.

Wooden abstract sculpture centered in an art gallery with framed paintings on the wall behind it.
Displai karya di pameran ‘Daulat Sampah’ Taman Budaya Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Kabupaten Kulon Progo sendiri memang dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak sungai dan muara. Namun sayangnya selama ini kondisi sejumlah muara tersebut selalu kotor karena dipenuhi sampah baik organik maupun non-organik yang terbawa dari sepanjang aliran sungai.

Dari keprihatinan itulah para seniman kemudian menuangkan ide dan gagasan mereka dengan mengangkat sejumlah isu mulai dadi kerusakan lingkungan, kehidupan sosial, hingga tantangan budaya di era digital, lewat karya masing-masing.

Kayu yang Memiliki Karakter Tersendiri

Menurut Jajang, para seniman ‘Daulat Sampah’ tidak sekadar membentuk kayu menjadi objek tertentu. Mereka terlebih dahulu “membaca” bentuk alami yang sudah diciptakan oleh alam, kemudian mengembangkannya melalui proses artistik hingga melahirkan karya yang memiliki pesan.

“Kayu-kayu itu sebenarnya sudah memiliki karakter sendiri. Seniman tinggal menangkap bentuk yang sudah diciptakan alam, lalu memadukannya dengan material lain sehingga menjadi sebuah karya yang utuh,” ujarnya.

Large wooden sculpture of a twisting human figure with a lattice head in a gallery, outstretched arm pointing forward, surrounded by framed paintings on white walls.
Sebuah karya patung di pameran ‘Daulat Sampah’ Taman Budaya Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Bagi Jajang, ukuran keberhasilan sebuah karya seni bukan semata-mata terletak pada keindahannya. Yang lebih penting adalah bagaimana karya tersebut mampu menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

“Seniman tidak berpikir apakah karyanya indah menurut orang lain. Yang utama adalah pesan yang ingin disampaikan. Ketika pesan itu sudah sampai kepada penikmatnya, karya itu selesai,” katanya.

Selain instalasi tiga dimensi berbahan kayu hanyut, pameran ini juga menampilkan berbagai lukisan maupun karya dua dimensi dengan beragam tema.

Melalui pameran tersebut, para seniman ingin mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap limbah. Mengingat material yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai, ternyata justru dapat diolah hingga memiliki nilai seni tinggi yang sarat akan keindahan dan makna.

Lewat pameran ‘Daulat Sampah’ ini para seniman Kulon Progo berupaya mengajak pengunjung agar tidak hanya sekadar menikmati karya seni, tetapi juga merenungkan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitar. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar