Mabur.co – Sejak lama, masyarakat kerap menjadikan mata uang Dollar (khususnya Dollar Amerika Serikat) sebagai kiblat atau acuan dari pergerakan ekonomi dunia.
Semua produk atau komoditas barang, pasti akan mengacu pada mata uang yang satu ini. Seolah-olah mata uang lain dianggap sebelah mata, dan tidak diperhitungkan sama sekali (kecuali di negaranya sendiri).
Hal ini terjadi bukannya tanpa sebab, mengingat Amerika Serikat (AS) sendiri merupakan negara adidaya atau super power dunia, dengan kekuatan ekonomi terbaik dan pasar finansial yang sangat dominan, sekaligus memiliki fondasi institusi politik dan militer yang sangat kuat.
Selain itu, AS juga turut mendominasi situasi ekonomi dunia pasca-Perang Dunia I dan II, yang semakin diperkuat oleh Perjanjian Bretton Woods pada 1944. Kesepakatan tersebut menetapkan Dollar sebagai acuan utama sistem keuangan dunia, yang dijamin oleh cadangan emas.
Dilansir dari laman Bank Sinarmas, Minggu (12/7/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa mata uang Dollar menjadi kiblat perekonomian dunia.
1. Stabilitas Ekonomi dan Kepercayaan Global
Sistem perbankan dan obligasi pemerintah AS sejak lama dianggap sangat aman, transparan, dan likuid.
Hal ini menjadikan Dollar AS sebagai tempat perlindungan yang aman bagi para investor untuk berinvestasi, termasuk di masa krisis sekalipun.
2. Cadangan Devisa Utama Perekonomian Dunia
Menurut data dari Dana Moneter Internasional (IMF), Dollar AS juga masih mendominasi porsi cadangan devisa resmi bank sentral di seluruh dunia, dengan kisaran lebih dari 56%.
Hal itu jelas menunjukkan bagaimana kedigdayaan Dollar AS dalam mengatur segala macam komoditas perdagangan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
3. Patokan Perdagangan Komoditas
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, di mana harga-harga komoditas seringkali berkiblat dari harga awal dalam Dollar AS, seperti minyak mentah dan emas maka negara-negara lain pun harus menyesuaikan harga komoditasnya di dalam negeri sesuai dengan harga Dollar AS tersebut.
Hal itu juga berkaitan dengan cadangan Dollar di negaranya masing-masing, demi melakukan transaksi internasional di kemudian hari.
***
Meskipun Dollar AS merupakan acuan bagi mata uang atau perekonomian di seluruh dunia, namun banyak negara saat ini sudah mulai melakukan diversifikasi cadangan devisa, beralih menggunakan mata uang lokal dalam transaksi bilateral (Local Currency Settlement/Transaction), sekaligus mengumpulkan emas untuk mengurangi ketergantungan atau hegemoni Dollar AS.
Upaya ini dilakukan oleh banyak negara, termasuk Indonesia, agar lebih banyak penggunaan mata uang lokal sebagai mata uang dalam bertransaksi secara internasional.
Tidak hanya itu, bank sentral di seluruh dunia juga secara masif mulai menambah cadangan emas, sebagai langkah diversifikasi untuk meminimalkan risiko ketidakpastian geopolitik global, yang ironisnya dipicu oleh AS sendiri di wilayah Timur Tengah.
Dengan begitu, mata uang di masing-masing negara juga bisa berdaya secara mandiri, tanpa harus selalu bergantung terhadap Dollar AS dalam setiap transaksi internasional. (*)

