Hati Tulus Berbalaskan Doa
Suatu waktu, saya menyampaikan kepada Pak Rachmat: “Pak, biaya politik Bapak terlalu besar.” Pak Rachmat bukan hanya membangun lokasi wisata dan mengadakan berbagai festival, tapi juga sangat cepat bertindak jika rakyat Gorontalo menghadapi masalah.
Jika ada bencana banjir, longsor, dan beragam musibah lainnya, ia segera mengirimkan bantuan. Ada jembatan yang putus dan rusak, segera ia memperbaikinya. Belum lagi bantuan-bantuan lainnya, termasuk untuk mengurus partai selaku ketua DPW Partai Nasdem. Sedangkan Pak Rachmat tidak pernah main proyek, main anggaran, main fee, dan sebagainya.
Ia memang mendapatkan dana reses dan berbagai dana resmi lainnya. Tapi semua itu tak mencukupi. Tetap kurang. Kurangnya jauh lebih besar.
“Politik harus menjadi bagian dari ibadah. Jadi ini soal nawaitu, Pak Nasihin,” katanya. Obrolan semacam ini selalu dalam suasana santai dan saat berdua saja.
Sikap dermawan Pak Rachmat memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jadi bukan hanya di politik. Suatu waktu, ada yang meminta bantuan. Ia memberikan dengan nominal tertentu, lalu diketahui orang sekelilingnya.
Orang itu berujar, “Terlalu besar itu, Pak.” Lalu ia marah, “Jangan menghalangi rezeki orang. Itu sudah menjadi rezekinya.”
Lain waktu, ia bercerita tentang kebiasaannya menerima pesan via whatsapp yang meminta sumbangan. Katanya, “Kok banyak banget orang minta sumbangan.”
Saya jawab, “Itu penipuan, Pak.” Rupanya ia rutin mentransfer orang-orang yang meminta sumbangan. Gara-gara seperti itu, akhirnya, jika ada yang minta sumbangan lewat pesan WA dan lokasinya terjangkau, saya diminta untuk mengecek.
Saya pun mendatangi pemilik nomor itu, setelah dipastikan benar, maka ia akan mentransfer. Tapi itu cuma sesekali saja. Selebihnya saya tak tahu. Apalagi tindakannya selalu mengikuti kata hati.
Namun terkadang saya tak tahan untuk berkomentar tentang ringannya ia membantu orang, khususnya orang-orang yang memang sengaja ngakali beliau.
Bahasa Jawanya “mbujuki”. Apa katanya? “Itu artinya memang rezekinya lewat saya. Gapapa,” katanya.
Karena ia menempatkan politik sebagai bagian dari ibadah, maka ia sangat menolak money politics alias serangan fajar di hari pencoblosan. Kali pertama ia ikut pemilu 2019, pada malam hari sebelum pencoblosan, anggota timnya khawatir ia tak lolos menjadi anggota DPR.
Ini karena ia tak menyebar uang. Namun malam itu di hadapan timnya ia menyampaikan, “Malam ini tidur yang nyenyak. Silakan pulang. Kita serahkan semuanya kepada Yang di Atas. Jika memang saya tidak terpilih ya tidak apa-apa. Berarti memang jalan saya bukan di politik.”
Saat berkampanye, di hadapan massa, ia memang selalu menyampaikan bahwa ia tak akan melakukan politik uang.
“Jika ingin uang, jangan pilih saya. Tapi jika percaya sama saya, mari kita jalan bersama. Bapak dan Ibu memberi kehormatan pada saya, maka saya akan memberikan kehormatan pada Bapak dan Ibu,” katanya.
Menurutnya, politik uang berarti telah menjual hak politik rakyat. Padahal hak politik rakyat telah dijamin undang-undang. Tak heran jika ada politisi yang tak pernah menemui pemilihnya setelah terpilih, dan akan datang menemui lagi pada pemilu berikutnya.
“Tapi jika saya terpilih, saya akan datang lagi dan akan memberikan lebih banyak,” katanya. Ia pun mengajak rakyat Gorontalo berhitung.
“Berapa besarnya amplop? Katakan Rp 500 ribu. Berarti tiap tahun Rp 100 ribu, karena periodenya lima tahun. Lalu bagi 360 hari. Satu liter beras pun tak dapat. Sekarang saya tanya berapa harga satu ekor kambing? Harga kambing jauh lebih besar daripada martabat Bapak dan Ibu,” katanya.
Lebih lanjut ia menyatakan, politik uang itu haram dan dilarang. Pertama, politik uang itu melanggar undang-undang. Kedua, manusia itu sudah dimuliakan Tuhan. Saat lahir diazankan, saat meninggal dikomatkan. Lalu mengapa manusia menghinakan diri sendiri dengan menjual martabatnya.
Ketiga, politik uang itu berarti menjual hak politik rakyat, padahal undang-undang sudah menjamin hak politik rakyat. Keempat, nilainya tak seberapa. Kelima, orangtua Pak Rachmat tidak mengajarkan menghormati dan menilai orang dari materi.
Dengan segala langkah politiknya, Ipang Wahid dan Arifin Asydhad, dalam podcast-nya, mempertanyakan untuk apa langgam politik Pak Rachmat tersebut.
“Kalau kita bermanfaat buat masyarakat, kita mati didoain. Itu yang paling penting kan. Kalau kita manfaat buat masyarakat dan masyarakat menerima dengan bahagia, kita didoainlah,” katanya. Sesederhana itu harapannya.
“Apa yang paling nikmat dari politik? Saya bisa bantu orang. Kalau di perusahaan kan cuma sekian ribu orang. Menjadi politisi saya punya kesempatan mengenali masyarakat. Kita menjadi bersyukur atas apa yang kita miliki dan apa yang harus saya lakukan. Jadi [harus dilihat] apa manfaatnya, bukan berapa triliun nilainya,” katanya.
Rachmat Gobel bukan konglomerat besar, bukan pula tokoh besar, juga bukan pejabat yang viral. Namun kami sebagai stafnya kaget melihat respons publik yang luar biasa atas kepergiannya. Hal itu bisa dilihat di sosial media dan doa-doa yang dipanjatkan serta ramaianya takziyah di beberapa tempat.
Rupanya getaran hati memang senyap, dan beresonansi pada saat yang tepat. Hati yang tulus berbalaskan doa, seperti yang beliau harapkan.
Rapi, Detil, Bercita Rasa
Ada satu kebiasaan kecil yang selalu dilakukan Pak Rachmat: menata apa saja secara detil dan disiplin.
Kali pertama menjadi stafnya, setelah selesai rapat, saya bangun dari duduk dan pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Tentu saja letak kursi dan lain-lain berantakan.
Toh nanti ada office boy yang akan merapikan. Bukankah begitu di semua kantor? Eh, tidak demikian dengan beliau. Pak Rachmat akan merapikan meja dan kursi terlebih dahulu.
Bukan hanya kursi yang beliau duduki, tapi semua kursi yang diduduki stafnya. Semua ditata secara presisi. Beliau akan melihat lurus atau tidak, simetris atau tidak. Tentu saja saya jadi malu hati.
Akhirnya saya ikut menata jika selesai rapat. Namun beliau tetap akan mengecek ulang. Tutup toples, letak toples, juga akan ia tata.
Bukan hanya meja-kursi-toples yang ia perhatikan. Beliau juga memperhatikan pakaian para stafnya. Sebagai wartawan, saya sudah merasa selalu rapi. Maklum, wartawan itu mirip seniman. Makin awut-awutan makin bangga. Namun tidak demikian dengan saya.
Ibu saya berharap saya bukan menjadi wartawan, tapi menjadi pegawai kantoran yang selalu rapi dan perlente. Karena itu ketika kali pertama saya diterima kerja sebagai wartawan, ibu saya membeli tiga setel pakaian. Semuanya lengan panjang dan polos serta celana bahan.
Padahal wartawan biasanya cuma mengenakan kaos, celana jins, dan sepatu sandal. Ini fenomena wartawan sebelum tahun 2000-an. Namun saya selalu rapi. Itu semacam wasiat dari ibu saya. Namun saat menjadi staf Pak Rachmat, rupanya saya dinilai masih kurang rapi. Sehingga saya didandani lebih rapi lagi.
Namun jangan dikira bahwa kerapian yang ia maksudkan harus mahal. Tidak. Dalam tata ruang, ini juga menjadi kegemarannya menata ruangan, beliau lebih menyukai konsep yang sederhana, modern, minimalis, dan ergonomis.
Ada yang bilang, itu selera yang Jepang banget. Namun jika diperhatikan, itu juga menjadi ciri arsitektur tradisional Nusantara. Rumah Betawi, rumah joglo, rumah adat Gorontalo, dan sebagainya itu sangat efisien dan efektif. Tidak rumit dan tidak berlika-liku. Keluarga besar besar Gobel memiliki dua rumah adat Gorontalo. Rumah pribadi Pak Rachmat juga efisien dan ergonomis.
Rupanya kebiasaannya pada hal kecil, detil, dan rapi merupakan bagian dari filosofi hidupnya.
Menurutnya, dalam bisnis, keuntungan perusahaan dimulai dari hal kecil yang berada di ujung, yaitu pekerjaan pegawai tingkat paling bawah. Salah satunya adalah kebersihan dan kerapian. Karena itu, saat hendak melakukan kerja sama dengan perusahaan lain, beliau akan melakukan kunjungan ke kantor atau pabriknya.
Sambil diskusi ini-itu, matanya selalu menyapu semua hal. Pak Rachmat akan memperhatikan kerapian, tata letak, kebersihan, juga perilaku karyawannya. Justru hal kecil itu merupakan roh sesungguhnya dari perusahaan tersebut.
Karena itu, katanya, “Memperhatikan orang kecil itu menjadi ukuran sangat penting.”
Demikian pula untuk urusan politik dan kenegaraan. Beliau tak begitu percaya dengan narasi besar di pidato, di presentasi, dan pernyataan di media massa.
Pak Rachmat selalu menyatakan, “Kita lihat bagaimana di lapangan. Itu yang menentukan.” Ini ada satu cerita tentang keberhasilannya mengendalikan harga sembako saat ia menjadi menteri. Saya menanyakannya belakangan setelah menjadi stafnya.
Karena selama 25 tahun saya menjadi wartawan, tiap kali hari besar keagamaan harga sembako selalu melonjak. Rupanya itu hasil kerja lapangan yang tak diketahui publik. Tiap malam ia datang ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.
Bahkan ia sahur bersama dengan para pedagang grosir, para kuli, dan pedagang kecil. Berhari-hari ia lakukan. Pak Rachmat ingin mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Beliau pun memborong dagangan dan dibagikan kepada mereka.
“Akhirnya seseorang datang, ia pedagang kecil di situ. Katanya, Pak Rachmat sudah tak perlu lagi datang ke sini. Saya sudah tahu Bapak bekerja tulus. Saya jamin tidak akan ada kenaikan harga. Begitu dia bilang,” katanya.
Rupanya, yang membuat harga melonjak adalah karena truk-truk yang mau masuk ke Pasar Induk dilarang masuk.
Demikian pula keberhasilannya mencegah penyelundupan. Ia rajin turun ke lapangan, ke pelabuhan-pelabuhan. Tanpa hiruk-pikuk, tanpa sorot kamera. Ia bekerja dalam sunyi.
Kerja-kerja detil semacam itu juga dilakukan sebagai orang yang ingin membangun Gorontalo. Beliau rajin mengajak orang-orang Gorontalo pergi keluar negeri. Seeing is believing, jika tak melihat sendiri orang tak akan percaya. Kira-kira begitu maksudnya.
Pak Rachmat ingin memajukan Gorontalo, yang saat ini tertinggal – salah satu provinsi termiskin di Indonesia dan salah satu provinsi dengan skor IPM terendah di Indonesia. Untuk itu ia mengusung narasi “politik pembangunan dan politik kesejahteraan” dalam rangka membangun “peradaban baru Gorontalo”.
Semua itu gagasan besar. Tak semua orang bisa mencernanya. Padahal dalam teori, ide perubahan akan diterima dan didukung publik jika publik merasa terlibat. Maka beliau tak mau repot melalui seminar dan diskusi, yang itu pasti sudah dilakukan para akademisi dan pemerintahan.
Karena itu ia praktis saja, beliau mengajak mereka melihat seperti apa negara maju itu: tata kota, perilaku sehari-harinya, kebersihannya, kegiatan UMKM-nya, industrinya, pemerintahannya. Pak Rachmat mengajak anggota DPRD, aktivis, akademisi, ulama, kepala desa, camat, kepala dinas, bupati, dan sebagainya.
Semua dengan biaya pribadi. Dan itu dilakukan hampir tiap tahun. Mereka diajak ke Eropa, ke Jepang, ke Turki, dan sebagainya. Sekali berangkat jumlahnya bisa belasan hingga puluhan. Beliau tak lupa mengajak mereka umrah.
Gagasan besar akan terwujud dari kerja-kerja kecil yang sunyi. Kerja-kerja teknokratis, kerja-kerja lapangan.
“Kesuksesan atau keuntungan dimulai dari pekerjaan terbawah yang ada di ujung,” katanya. *** (Selesai)
Nasihin Masha, penulis buku Praksis Pancasila: Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel
