Sulitnya Menjembatani Hubungan Sastrawan Lintas Generasi

3 Min Read
Panel discussion at Jogja 2026 Literasi Festival with three speakers seated on stage.
Latiefs Noor Rochmans (kanan) berbicara mengenai hubungan sastrawan senior dengan sastrawan muda, yang seolah berjarak sangat jauh. (Foto: Kanal YouTube Bang Tedi Way)

Mabur.co – Selama ini, banyak dari sastrawan atau penyair yang terkenal adalah mereka yang sudah berusia lanjut, atau bahkan yang sudah tiada, seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Sapardi Joko Damono, Joko Pinurbo, dan lain sebagainya.

Setelah nama-nama tersebut, tidak banyak sastrawan muda yang meneruskan jejak mereka, untuk menghidupkan sastra di ruang-ruang publik, atau setidaknya menjadi sosok yang dikenal berkat sastra, melalui karya-karyanya yang begitu legendaris sampai hari ini.

Hal itu pula yang disayangkan oleh Latiefs Noor Rochmans, seorang sastrawan asal Yogyakarta.

Ia merasakan adanya “diskonektivitas” atau ketidakberlanjutan dari tokoh-tokoh sastrawan pada masanya dengan generasi muda era modern saat ini.

Karena mereka lebih sibuk membangun hal-hal yang berurusan dengan teknologi, membuat konten yang cepat viral (ikut-ikutan yang sedang tren), hingga sesuatu yang berkaitan dengan kenakalan remaja, entah itu klitih dan semacamnya.

“Masalahnya, anak-anak muda saat ini kadang-kadang mereka tidak mengenal (sastrawan) yang usianya di atas mereka. Kenapa sastrawan-sastrawan senior itu tidak didatangi? Kan bisa datang, dolan, golek ilmu, dan sayangnya itu tidak dilakukan,” papar Latiefs Noor Rochmans, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Mendatangi Sastrawan

Menurut Latiefs, kegiatan “sowan” atau mendatangi sastrawan senior sangatlah penting, guna mempelajari segala sesuatu yang bisa dipetik dari seniornya tersebut, untuk diaplikasikan bagi generasi muda dalam kegiatan sastra di kesempatan berikutnya.

“Padahal kalau zaman dulu kalau ingin jadi penulis (sastrawan) yang handal, maka kita itu harus berguru ke penulis yang sudah punya nama. Jadi kita ikuti setiap kegiatan mereka ke mana-mana, sehingga nanti feel-nya (dalam membuat karya sastra) akan ketemu dengan sendirinya. Dan juga supaya yang sepuh-sepuh itu paham, bahwa eksistensi anak muda di bidang sastra itu memang masih tumbuh, begitu,” tambah Latiefs.

Ada pun salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjembatani hubungan sastrawan lintas generasi tersebut, adalah dengan mengadakan semacam event sastra, atau perlombaan yang melibatkan generasi muda.

Seperti yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY dengan program Temu Karya Sastra (TKS) selama lima tahun, serta event bulanan bernama Selasa Sastra, yang diselenggarakan di Bantul, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar