Mabur.co – Di tengah arus modernisasi yang kian gencar seperti saat ini, salah satunya dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence), membuat keberadaan sastra mulai dipertanyakan, dan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu dilakukan, apalagi dilestarikan kepada generasi selanjutnya.
Namun, sastra masih tetap memiliki tempat yang layak untuk generasi muda, karena sastra adalah cara bagi mereka untuk menyampaikan sesuatu, entah itu keluh kesah, curhat, kritik, pujian, dan lain sebagainya.
Bahkan melalui sastra, seseorang bisa lebih mudah dikenali oleh banyak orang, karena karya-karyanya yang mampu menggugah rasa penasaran, membangkitkan imajinasi, serta semangat untuk meniru atau melakukan, sesuai dengan karya sastra yang ditulis, dan seterusnya.
“Memang ada sesuatu yang harus disampaikan. Anda ingin menyampaikan sesuatu itu (dengan cara) apa? Yang menjadi identitas bagi karya Anda sendiri. Jadi kalau misalnya Anda punya obsesi berlebih di bidang kuliner, ya sudah tinggal dieksplorasi saja sampai tuntas di dalam karya sastra Anda. Sehingga Anda akan dikenal sebagai seorang penulis yang khas dengan tema-tema kuliner, seperti itu,” ucap sastrawan Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, merupakan bagian dari Festival Literasi Jogja 2026 yang digelar di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam sesi bersama Satmoko Budi Santoso, ada juga sastrawan Latiefs Noor Rochmans dengan moderator Afifah Abasrin.
Memperjuangkan Identitas Estetika
Satmoko menilai, bersastra adalah bagian dari memperjuangkan identitas seseorang, alias membangun personal branding.
Karena hal itu dapat mencerminkan pribadi dan karakter orang tersebut, untuk diperkenalkan kepada khalayak luas, sekaligus menjadi ciri khas yang terus dibawa hingga akhir hayat.
“Jadi menulis (sastra) itu memang memperjuangkan identitas. Karena bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah yang mampu memotret jiwa zaman. Jadi jangan khawatir kita hidup di zaman apa pun, dan tidak usah pula membentur-benturkan dengan kondisi yang terjadi pada zaman tersebut (misalnya dengan hadirnya AI dan lain-lain). Karena di setiap zaman kita bisa memotretnya dengan baik (melalui tulisan karya sastra), apa saja hal yang menarik di zaman itu yang bisa diabadikan,” tambah Satmoko.
Dengan begitu, sastra adalah sesuatu yang selalu hidup di zaman apa pun, dalam kondisi apa pun, dan oleh siapa pun.
Karena hakikat dari sastra adalah memotret peradaban zaman, bukannya tenggelam oleh zaman, apalagi hanyut bersama zaman itu sendiri.
Tinggal bagaimana potret itu dilakukan, dan seperti apa dampak yang ditimbulkan kepada peradaban secara luas.
Belajar Sastra pada Pendahulu
Di sisi lain sastrawan Latiefs Noor Rochmans berbicara tentang pentingnya sastrawan muda era kini belajar pada jejak sastra para pendahulu. Mengenali pencapaian estetika karya mereka dan juga proses kreatifnya.
“Ada baiknya juga mengenal lebih dekat. Misalnya belajar secara langsung. Menyerap tradisi belajar dan menulis yang didapat secara langsung tentu akan berbeda dengan hanya membaca kisah proses kreatifnya saja,” papar Latiefs.
Latiefs juga tidak merekomendasikan AI sebagai bagian proses kreatif. Karena yang terpenting adalah proses kreatif yang natural. (*)
