Batik Tulis Nitik, Eksis Sejak Era Sri Sultan Hamengku Buwono VII

3 Min Read
Fabric booth with patterned textiles on tables and racks; mannequin in a blue-and-white patterned dress on the right.
Motif batik tulis nitik merupakan adaptasi dari kain tenun patola India yang dahulu sangat mahal dan sulit diakses oleh masyarakat lokal. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co– Batik tulis nitik merupakan kain batik yang memiliki motif nitik dan berasal dari Trimulyo, Jetis, Bantul.

Perajin batik nitik, Aminah mengatakan, batik tulis nitik  lahir tahun 1600 sebagai akibat penjualan kain tenun patola India, sejenis kain cinde yang dimonopoli oleh Belanda, sehingga harga jualnya berlipat ganda.

Dari masalah tersebut, kaum perempuan Jawa menginisasi gerakan membuat kain batik dengan motif patola sebagai substitusi produk impor dari India.

“Di Trimulyo, produksi batik nitik tersebar di berbagai dusun seperti Kembangsongo, Blawong, dan Bembem. Dusun Kembangsongo dikenal sebagai produsen tertua yang tetap bertahan bahkan setelah gempa besar tahun 2006,” ucapnya, saat ditemui di stan pameran INACRAFT, Kamis (16/7/2026).

Woman wearing a blue hijab and glasses sits at a table, holding a small brown glass bottle in her hands with patterned fabric behind her.
Perajin batik nitik sedang menyelesaikan batik nitik. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Aminah mengatakan, untuk harga lembaran kain batik tulis nitik yang kecil Rp250.000.

”Sedangkan kain baju Rp500.000 sampai Rp 3.000.000,” katanya.

Textile shop interior with shelves and tables covered in patterned fabrics; a woman in a blue hijab sits nearby, looking at camera.
Untuk harga lembaran kain batik tulis nitik yang kecil Rp250.000.
kain baju Rp500.000 sampai Rp3.000.000.
(Foto: Setiaky A Kusuma)

Aminah mengatakan, keunikan motif ini berasal dari ujung canting yang dibelah menjadi 4 sehingga titik-titik yang dihasilkan berbentuk persegi.

Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, kerangka ragam hiasnya dibuat cecek (cecek pitu, cecek telu), serta dikombinasi dengan ornamen klowong dan tembokan.

Berbeda dengan motif batik lain, motif batik nitik sangat rumit dan dibuat di kedua sisi kain.

“Batik nitik dulu merupakan bentuk strategi memutus ketergantungan pada kain impor di zaman kolonial Belanda,” katanya.

Aminah menuturkan, batik tulis nitik adalah salah satu motif batik tertua khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama kali dikembangkan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, yaitu masa GBR Ay. Brotodiningrat. 

“Pemberian nama pada batik ini didasarkan pada motif batik yang terdiri dari ribuan titik yang tersusun dan terukur dengan sedemikian rupa sehingga membentuk ruang, sudut, dan bidang geometris,” katanya.

Basket filled with bamboo craft pieces and brass-tipped ends on a patterned tablecloth, seen up close.
Keunikan motif titik ini berasal dari ujung canting yang dibelah menjadi 4 sehingga titik-titik yang dihasilkan berbentuk persegi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Aminah menuturkan lagi, batik tulis nitik menyiratkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta karena melukiskan jati diri manusia sebagai makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain.

Dari sisi potensi pengembangan kreativitas dan seni, batik nitik berperan penting dalam pengembangan karya budaya batik di DIY dan mampu melahirkan kreasi-kreasi baru yang lahir dari kreativitas pembatik,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar