Mabur.co – Sandal tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam berbagai aktivitas di luar ruangan. Tidak semua sandal cocok digunakan oleh seorang pemakai hal ini tergantung dari selera dan keinginan.
Sekarang jenis dan model sandal yang ada di pasaran umumnya berbentuk dan bermodel sandal modern buatan pabrik. Sangat jarang kita jumpai sandal tradisional seperti zaman dulu.
Kalau di Jawa Barat ada sandal tradisional yaitu sandal tarompah dan sandal kayu atau kelom geulis. Maka di Padang Sumatra Barat juga ada sandal tradisional seperti sandal tarompah datuak. Sandal tersebut hampir mirip bentuk dan bahan pembuatannya yaitu dari kayu jati.

(Foto: Setiaky A Kusuma)
Perajin tarompah datuak, Rudi Hendriatno, mengatakan, masyarakat Padang menyebutnya sandal cepal rasul, karena mirip seperti sandal cepal rasul yang berasal dari Timur Tengah.
Meskipun ada kemiripan dan sedikit perbedaan. Kalau sandal cepal rasul bentuknya agak melengkung pada bagian tengah dan runcing pada ujungnya.
“Sandal tarompah datuak merupakan hasil dari modifikasi dan pengembangan dari sandal tersebut,” ucapnya, saat ditemui di stan pameran INACRAF, Kamis (16/7/2026).

Rudi menuturkan, tarompah artinya sandal dan datuak artinya penghulu adat sehingga sandal tradisional ini sering disebut sandal penghulu adat atau sandal datuk.
Alasannya karena banyak dipakai oleh para pemangku adat di Minangkabau. Sering juga mereka gunakan dalam berbagai kegiatan sehari-hari atau pada acara-acara tertentu.
“Produk sandal tarompah datuak ini menjadi produk unggulan sebagai cinderamata yang unik. Bisa ditawarkan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Sumatra Barat. Bahkan untuk saat ini pembeli dan peminatnya banyak dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam,” katanya.
Rudi mengatakan, untuk membuatnya memakan waktu cuma satu hari.
“Untuk harga Rp250.000 satu pasang,” katanya.
Rudi menuturkan, sandal tarompah ini sering dikatakan sebagai sebuah ciri dari kebudayaan Nusantara yang mencerminkan kesederhaan, kesahajaan, dan kejujuran dari kehidupan masyarakat.
Jika dilihat dari segi makna kata, tarompah ini memang memiliki arti alas kaki atau sandal.
“Sehingga ketika orang menyebut nama tarompah sama saja berarti sebagai sandal,” katanya.
Rudi mengatakan, pada zaman dulu, sandal tarompah ini sering digunakan oleh para pejuang atau jawara (dalam bahasa Sunda) ketika mengusir para penjajah di Nusantara.
Tidak hanya pejuang saja, bahkan para tokoh masyarakat juga sering memakainya dalam kegiatan sehari-hari. Khususnya saat mereka menghadiri acara-acara penting seperti pertemuan dengan tokoh-tokoh lainnya.
Penggunaan sandal tarompah saat itu biasanya dipadu-padankan dengan pakaian tradisional dari masing-masing daerah.
“Kombinasi ini memang terlihat sangat matching pada saat itu dan menjadi sebuah kebanggaan untuk si pemakai,” katanya.
