Mabur.co – Sebuah lukisan sosok misterius nampak menyita perhatian dalam Pameran Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo.
Berlokasi di Galeri Seni, Taman Budaya Kulon Progo, mulai 11–20 Juli 2026, lukisan berjudul Sang Trubus dengan ukuran 30×40 cm karya Darmadi dengan media acrylic on canvas itu dipajang tepat di depan pintu masuk ruang pameran.
Bersanding dengan karya instalasi tiga dimensi lainnya yang dibuat dari bahan limbah kayu organik, lukisan sosok seniman besar Indonesia itu tidak bisa tidak, akan terlihat oleh mata setiap pengunjung yang hadir.
Mungkin tak banyak yang tahu siapa sosok dalam lukisan itu. Mungkin juga ada yang masih mengingat nama besarnya, meski kini hampir tak pernah terdengar disebut di berbagai pembicaraan publik di dunia seni sekalipun.
Seniman Besar
Sosok itu adalah Trubus Sudarsono. Seorang seniman besar Tanah Air asal Wates, Kulon Progo, Yogyakarta. Trubus selama ini dikenal sebagai maestro pematung dan pelukis yang telah melahirkan karya-karya besar monumental.
Bahkan tak sedikit karya-karyanya masih berdiri kokoh dan menjadi peninggalan penting bagi Indonesia di era modern saat ini.
Misalnya, patung Roro Jonggrang di kompleks Istana Negara Jakarta, patung si Denok di Istana Bogor, patung Jenderal Urip Sumoharjo di Magelang, hingga Tugu Muda Semarang merupakan sentuhan tangan Trubus Soedarsono.
Tak hanya itu, deretan lukisan karya Trubus Soedarsono juga banyak disimpan di Istana Negara, Istana Kepresidenan, Museum Nasional dan luar negeri, termasuk menjadi koleksi pribadi Presiden Soekarno, Adam Malik, Daoed Joesoef, dan banyak kolektor lainnya.
Lahir di Padukuhan Sideman, Wates, Kulon Progo pada 23 April 1926, Trubus Soedarsono dikenal sebagai pematung dan pelukis naturalis Indonesia yang dikenal karena aliran realismenya yang sangat kuat.
Tak seperti seniman besar lain yang memperoleh pendidikan formal sejak dini, Trubus Soedarsono tumbuh besar di lingkungan keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang buruh tani. Sehingga ia bahkan tak tamat Sekolah Rakyat atau setingkat SD karena tak memiliki biaya.
Kemampuan melukis Trubus tumbuh secara autodidak. Ia banyak belajar kepada Affandi maupun Sindoe Soedarsono, Soedjojono, hingga Hendra Gunawan.
Pernah bergabung sebagai anggota sanggar Seniman Indonesia Muda hingga Pelukis Rakyat. Ia juga tercatat sebagai dosen angkatan pertama Akademi Seni Rupa Indonesia “ASRI” (Sekarang ISI Yogyakarta).
Namun karena karena aktivitas politik yang dilakukannya, Trubus Soedarsono yang dikenal sebagai pelukis kesayangan Presiden Soekarno ini harus mengalami nasib tragis. Ia diculik dan akhirnya menghilang tanpa kabar setelah gejolak politik 1965.
Inspirasi Besar Seniman Kulon Progo
Bagi para seniman di Kulon Progo, Trubus Soedarsono bukan hanya seorang seniman besar sekaligus maestro di dunia seni patung maupun lukis. Lebih dari itu ia merupakan sosok inspirasi bagi seniman generasi sesudahnya hingga saat ini.
“Kita seniman di Kulon Progo sangat menghormati sosok beliau. Beliau menjadi sumber inspirasi kami dalam berkarya. Karena bagaimanapun beliau merupakan maestro dunia seni modern Indonesia yang berasal dari Wates Kulon Progo,” kata kurator pameran Daulat Sampah, Jajang R. Kawentar, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu seniman asal Kulon Progo lainnya Teguh Paino, mengatakan pentingnya pameran Daulat Sampah ini digelar yakni sebagai momentum untuk merawat ingatan terhadap Trubus Soedarsono.
“Melalui pameran Daulat Sampah ini kami tidak sedang meratapi kehilangan, tetapi merayakan semangat berkesenian yang diwariskan Trubus Soedarsono kepada generasi seniman berikutnya,” katanya.
