Mabur.co – Nama Trubus Soedarsono mungkin jarang didengar generasi muda. Namun sejarah mencatat Trubus Soedarsono sebagai salah satu maestro seni rupa yang melahirkan karya-karya monumental di Indonesia.
Meski awalnya dikenal sebagai pelukis kesayangan Presiden Soekarno, namun akhir kisah hidup seniman besar asal Wates Kulon Progo itu harus berakhir tragis usai menghilang tanpa jejak setelah gejolak politik 1965 dan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Memperingati 100 tahun Trubus Soedarsono, masyarakat khususnya para seniman asal Kulon Progo kini hanya bisa mengingat sang maestro lewat karya-karyanya yang masih berdiri kokoh di berbagai penjuru Indonesia. Termasuk juga kenangan terakhir dari anak-anaknya.
Lahir di Padukuhan Sideman, Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, pada 23 April 1926, Trubus Soedarsono berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanyalah seorang buruh tani sehingga kehidupan ekonomi keluarga sangat terbatas.
Bakat Sejak Kecil
Karena keterbatasan biaya, Trubus bahkan tidak sempat menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat atau setingkat sekolah dasar. Namun sejak kecil ia telah menunjukkan bakat luar biasa dalam menggambar. Ia juga gemar menjadi dalang dalam pertunjukan kampung.
Kemampuan melukis dan mematungnya berkembang secara autodidak. Dalam perjalanan berkesenian, Trubus banyak belajar dari tokoh-tokoh seni besar Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, hingga Hendra Gunawan.
Ia kemudian bergabung dengan kelompok Seniman Indonesia Muda (SIM) dan Pelukis Rakyat, yang saat itu menjadi wadah lahirnya banyak seniman besar Indonesia.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Trubus aktif membuat poster propaganda anti-Belanda dan terlibat dalam berbagai aktivitas perjuangan. Akibatnya, pada 1948 ia sempat dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, karier seninya justru semakin berkembang. Ia menjadi salah satu dosen angkatan pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Di kampus tersebut, Trubus dikenal sebagai pengajar yang turut mengembangkan aliran realisme dan naturalisme dalam seni rupa Indonesia.
Kemampuannya juga membuat ia memperoleh kesempatan mengikuti misi kebudayaan ke Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur untuk mempelajari perkembangan seni lukis dan seni patung.
Pada 1956, Trubus sebenarnya memperoleh beasiswa belajar ke Amerika Serikat. Namun kesempatan itu gagal terlaksana karena pemerintah Amerika menolak visanya setelah mengetahui ia pernah mengikuti misi kebudayaan ke Uni Soviet dan Cekoslowakia.
Nama Trubus semakin dikenal ketika Presiden Soekarno menjadi kolektor berbagai karya lukisnya. Ia bahkan disebut-sebut sebagai pelukis kesayangan presiden pertama Republik Indonesia itu.
Lukisan-lukisan Trubus kerap menghiasi Istana Kepresidenan dan menjadi bagian dari koleksi pribadi Sang Proklamator. Selain Soekarno, karya-karyanya juga dikoleksi Wakil Presiden Adam Malik, Daoed Joesoef, Museum Nasional hingga sejumlah kolektor luar negeri.
Selain melukis, Trubus juga menghasilkan karya-karya patung monumental yang hingga kini masih menjadi ikon di berbagai kota.

Beberapa karya besarnya antara lain: Patung Roro Jonggrang di kompleks Istana Negara, Patung Si Denok di Istana Bogor, hingga patung Jenderal Urip Sumoharjo di Magelang.
Karya-karya tersebut menjadi bukti besarnya kontribusi Trubus dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia.
PKI
Selain dikenal sebagai seniman, Trubus juga aktif di dunia politik. Ia pernah menjadi anggota DPRD Yogyakarta mewakili Partai Komunis Indonesia (PKI). Keterlibatan politik itulah yang kemudian mengubah seluruh hidupnya.
Setelah peristiwa G30S 1965, Trubus ikut menjadi sasaran penangkapan terhadap orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengan PKI. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis.
Anak kedua Trubus, Sri Sudaryati, masih mengingat jelas hari terakhir ketika melihat ayahnya. Menurut Sri, peristiwa itu terjadi pada 1 Desember 1966, bertepatan dengan hari kelahiran adik bungsunya yang ke-10.
Saat itu aparat keamanan datang ke rumah dan membawa Trubus pergi. Sebelum dibawa, sang ayah sempat mengucapkan kalimat yang hingga kini terus membekas di ingatannya.
“Mungkin sejak ini kita tidak akan pernah bertemu lagi,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Sri yang saat itu duduk di bangku kelas tiga SMP sempat bertanya kepada ayahnya akan dibawa ke mana. Namun saat itu Trubus hanya menjawab singkat, “Tidak tahu.”
Ucapan tersebut menjadi percakapan terakhir mereka. Sejak hari itu, keluarga tidak pernah lagi melihat Trubus.
Bukan hanya kehilangan sang ayah, keluarga juga harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Sri mengenang bagaimana aparat mengangkut hampir seluruh barang milik Trubus dari rumah. Seluruh lukisan, dokumen, hingga berbagai barang berharga dibawa tanpa tersisa.
“Kami seperti dirampok. Tidak ada yang disisakan. Semua lukisan bapak diambil,” kenangnya.
Tak lama kemudian, istri Trubus juga ikut ditahan. Anak-anak Trubus pun harus hidup dalam kondisi serba kekurangan setelah kehilangan kedua orang tua sekaligus sumber penghidupan keluarga.
Dicari hingga Pulau Buru
Selama puluhan tahun keluarga sebenarnya tetap berusaha mencari keberadaan Trubus. Mereka mendatangi berbagai lokasi penahanan, mencari informasi ke sejumlah barak militer hingga menelusuri kemungkinan keberadaan Trubus di Pulau Buru.
Namun seluruh upaya itu tidak pernah membuahkan hasil. Tidak ada kepastian apakah Trubus masih hidup saat itu atau telah menjadi salah satu korban penghilangan paksa pada masa pergolakan politik Indonesia. Hingga kini, keluarga tidak pernah mengetahui di mana makam maupun keberadaan sang maestro.
Meski sosoknya menghilang tanpa jejak, karya-karya Trubus Soedarsono tetap menjadi bagian penting sejarah seni rupa Indonesia. Patung-patung monumental hasil tangannya masih menjadi penanda berbagai ruang publik. Lukisan-lukisannya tetap tersimpan di museum, istana negara, hingga koleksi para kolektor seni.
Perjalanan hidup Trubus menjadi potret seorang anak petani dari Wates yang berhasil mencapai puncak dunia seni rupa Indonesia, tetapi kemudian lenyap dalam pusaran sejarah politik bangsa.
Namanya mungkin lama tenggelam dari ruang publik, tetapi warisan karya dan kisah hidupnya terus mengingatkan bahwa Indonesia pernah memiliki seorang maestro besar yang hingga hari ini belum pernah diketahui bagaimana akhir hidupnya.
