Mabur.co – Pelestarian batik masih menghadapi ancaman serius. Salah satunya disebabkan karena kelangkaan pewarna alami, yang berasal dari sumber daya alam di lingkungan sekitar masyarakat.
Adapun salah satu sumber pewarna batik alami berasal dari pohon joho. yang jumlahnya kian menipis dari waktu ke waktu.
Bahkan di provinsi DIY sendiri, saat ini jumlahnya hanya sekitar 13 pohon saja, yang tersebar di Gunungkidul dan juga Bantul.
Selain itu, masyarakat juga masih belum memahami, bahwa pohon joho merupakan salah satu sumber pewarna batik alami yang sangat baik untuk menghasilkan batik berkualitas dan tahan lama.
Terlebih di tengah maraknya batik versi printing maupun medium canggih lainnya, yang dinilai jauh dari esensi batik itu sendiri, sebagai salah satu warisan khas Nusantara.
Kesulitan itu pula yang dialami oleh Ketua Sanggar Wani Migunani, Awit Radiani. Ia merasa bahwa masyarakat masih belum memiliki pemahaman yang cukup tentang pohon joho, sebagai pewarna batik alami.
“Saya sudah ngomong berkali-kali (ke banyak orang), tapi teman-teman itu pasti bilangnya ‘susah mbak tumbuhnya’. Selalu ngomong gitu. Ah masa sih? Kita aja berhasil kok, dan langsung 1.000 polybag yang kita tanam di belakang itu,” ucap Awit Radiani, beberapa waktu lalu.
Mengandung Unsur Mistis
Selain itu, banyak masyarakat juga masih mempercayai hal-hal mistis terkait keberadaan suatu pohon. Sehingga masyarakat setempat cenderung sulit mempercayai khasiat yang dimiliki pohon joho sebagai pewarna batik alami.
“Memang sih di pohon joho ini banyak mitosnya. Saya juga pernah bilang ke salah satu perangkat desa di Sendangsari, ‘ini saya berhasil menumbuhkan (tanaman joho untuk pewarna batik alami). Tapi Pak Dukuhnya sana malah langsung nggak percaya aja gitu. Dia nggak percaya kalau tanaman joho ini bisa tumbuh (menjadi bahan pewarna batik). Karena selama ini memang nggak pernah bisa tumbuh di situ (wilayah Sendangsari),” tambah Awit.
Sebagai salah satu pihak yang telah berhasil menumbuhkan tanaman joho sebagai bahan pewarna batik alami, Awit bersama pihak Sanggar Wani Migunani pun tidak keberatan untuk membagikan tanaman joho (ketika sudah berbuah) kepada siapa pun yang hendak melestarikan batik, atau membutuhkan pewarna batik alami dalam setiap kain batik yang diproduksinya sehari-hari. (*)
