Mabur.co– Soegija tidak berasal dari keluarga Katolik. Agama Katolik, waktu Soegija masih kecil, baru sukses membaptis beberapa keluarga Jawa.
Soegija terlahir dari keluarga berlatar belakang Islam Jawa. Keluarga Soegija yang berasal dari Surakarta, kemudian hijrah ke Yogyakarta.
Di kota itulah Soegija bertemu dengan Romo Franciscus Georgius Josephus van Lith yang sedang merekrut calon murid sekolah guru di Muntilan. Kala itu, Soegija bersekolah di sekolah dasar Volkschool di Lempuyangan, Yogyakarta.
Sejarawan UGM, Fajar Pratikno mengatakan, menjadi Uskup Pribumi Pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata merupakan pahlawan nasional yang dikenal karena perjuangannya menegakkan nasionalisme di kalangan umat Katolik.
Mengintegrasikan semangat nasionalisme dengan iman Katolik, ia pun terkenal dengan semboyannya, 100% Katolik 100% Indonesia. Bukan sekadar slogan, melainkan sebuah maklumat kebangsaan.
“Pemikiran ini menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak boleh memisahkan dirinya dari tanggung jawab warga negara. Sebaliknya, iman yang sejati harus memanifestasikan diri dalam kecintaan yang radikal terhadap tanah air dan keterlibatan aktif dalam membangun bangsa,” katanya, Rabu (22/7/2026).

Fajar mengatakan, jejak pemikiran kebangsaan Soegijapranata berdiri di atas tiga pilar utama yang sangat dibutuhkan bangsa saat ini.
Tiga Pilar Bangsa
Pertama integrasi nasionalisme dan iman. Soegijapranata menolak dikotomi antara agama dan negara, serta menegaskan bahwa menjadi religius berarti menjadi patriotik.
Kedua, kemanusiaan yang inklusif. Ia membuka pintu ruang-ruang sakral untuk kemanusiaan tanpa memandang suku, ras, maupun agama, terutama pada masa krusial perang kemerdekaan.
Ketiga, diplomasi berdaulat. Ia menunjukkan bahwa perjuangan kebangsaan harus dibawa ke panggung internasional untuk mendapatkan pengakuan dunia atas martabat bangsa Indonesia.
“Warisan pemikiran Soegijapranata adalah panggilan abadi bagi setiap elemen bangsa untuk melampaui sekat-sekat perbedaan demi kepentingan bersama. Di era modern ini, meneladani beliau berarti berani menyuarakan keadilan, berpihak pada yang lemah, dan terus konsisten merawat tenun kebangsaan Indonesia,” katanya.
Menurut Fajar, salah satu langkah strategis yang Soegijapranata lakukan adalah mengirim surat resmi kepada Vatikan, meminta agar Indonesia diakui kemerdekaannya. Langkah ini terbukti memperkuat posisi Indonesia di mata dunia internasional saat itu.
“Soegijapranata mendorong para misionaris dan umat Katolik asing untuk mendukung perjuangan Indonesia,” pungkasnya.
