Mabur.co — Bagi sebagian masyarakat, arisan bukan sekadar kegiatan berkumpul dan menunggu giliran mendapatkan uang. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, arisan menjadi salah satu cara warga mengatur keuangan.
Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, arisan sering kali berfungsi seperti tabungan bersama. Setiap bulan, mereka menyisihkan sejumlah uang untuk kemudian dikumpulkan dan diberikan kepada salah satu peserta melalui sistem undian.
Uang yang diterima bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar keperluan sekolah anak, hingga memenuhi kebutuhan mendesak.
Momen tertentu bahkan membuat arisan semakin ditunggu. Salah satunya saat tahun ajaran baru ketika orang tua harus menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak, seperti sepatu, tas, seragam, dan perlengkapan lainnya.
Bagi warga yang mendapat giliran arisan di awal, uang tersebut juga bisa menjadi semacam pinjaman tanpa bunga. Mereka bisa mendapatkan sejumlah uang lebih dulu, kemudian tetap membayar iuran setiap bulan hingga seluruh peserta mendapatkan giliran.
Namun, sistem ini memiliki risiko tersendiri. Peserta yang mendapatkan uang di awal harus tetap disiplin membayar iuran sampai arisan selesai.
Partinah, warga Mergangsan, Yogyakarta, merasakan sendiri pentingnya arisan bagi masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.
Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus berjualan makanan ringan di angkringan itu mengikuti arisan kampung.
Ikut Dua Kelompok Arisan
Tidak hanya satu, Partinah bahkan mengikuti dua kelompok arisan sekaligus yang pengundiannya dilakukan setiap bulan.
Bagi Partinah, arisan menjadi salah satu cara untuk menyisihkan dan mengamankan uang.
“Arisan itu seperti menabung. Kalau uang dipegang sendiri kadang bisa terpakai untuk kebutuhan lain,” kata Partinah, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, uang arisan juga bisa menjadi solusi ketika seseorang membutuhkan dana dalam waktu cepat.
Misalnya, ketika ada kebutuhan mendesak tetapi uang belum tersedia. Berbeda dengan meminjam uang, arisan tidak mengenakan bunga.
“Kalau pinjam kan biasanya ada bunga. Kalau arisan tidak. Tapi dapatnya tergantung kocokan, bisa di awal atau di akhir,” ujarnya.
Bagi peserta yang sedang benar-benar membutuhkan uang, giliran arisan juga terkadang dapat ditukar dengan peserta lain.
Misalnya, seseorang yang mendapat giliran lebih akhir sedang membutuhkan uang, sementara peserta lain yang mendapat giliran lebih awal belum membutuhkannya.
Keduanya kemudian dapat membuat kesepakatan untuk menukar giliran. Ketika peserta yang semula mendapat giliran lebih awal menerima uang, uang tersebut diberikan kepada peserta yang membutuhkan.
Selanjutnya, ketika giliran peserta yang sebelumnya menerima uang tiba, uang arisan diberikan kepada orang yang telah menukar giliran tersebut.
Tanpa Bunga Pinjaman
Bagi masyarakat seperti Partinah, sistem semacam ini menjadi salah satu cara untuk saling membantu tanpa harus berhadapan dengan bunga pinjaman.
Arisan juga menunjukkan bagaimana masyarakat membangun sistem keuangan sederhana secara mandiri.
Di lingkungan pedesaan maupun kawasan perkotaan, arisan masih menjadi bagian dari kehidupan ekonomi warga.
Nilainya mungkin tidak selalu besar. Namun, bagi keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan ketat, uang yang terkumpul dari arisan dapat memiliki arti penting.
Uang tersebut bisa menjadi penyelamat ketika kebutuhan datang bersamaan dengan kondisi keuangan yang terbatas.
Karena itu, bagi sebagian masyarakat kelas menengah ke bawah, arisan bukan hanya soal siapa yang mendapat uang lebih dulu.
Arisan menjadi cara untuk menabung, mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan mendesak, hingga mendapatkan akses dana tanpa bunga.
Di tengah sulitnya sebagian masyarakat mengakses layanan keuangan formal, arisan tetap bertahan sebagai sistem ekonomi sederhana yang dibangun dari kepercayaan dan gotong royong.
