Mabur.co – Di tengah hamparan lahan pertanian hortikultura kawasan pesisir Kulon Progo, seorang perempuan muda nampak sibuk berjibaku di tengah kebun yang rimbun. Kaki dan tangannya tak berhenti bergerak, beraktivitas ke sana-ke mari membuat lelah siapa pun yang melihatnya.
Namanya Irna Tri Wijayanti, seorang PNS muda berusia 35 tahun sekaligus ibu dari 2 orang anak. Di tempat kerjanya, RSUD Nyi Ageng Serang, Nanggulan, ia bekerja sebagai perawat. Namun saat di rumah, ia adalah petani sekaligus ibu rumah tangga biasa.
Tak seperti kebun lainnya yang ditanam cabai, tomat, terong atau sawi, kebun milik Irna nampak lain dari biasanya. Puluhan tanaman kelengkeng setinggi kurang dari 2 meter, tertata rapi di lahan seluas sekitar 1000 meter persegi miliknya.
Dikelilingi jaring transparan penghalau hama kelelawar, setiap pohon di kebun Irna terlihat dipenuhi buah kelengkeng yang tumbuh lebat di setiap rantingnya. Saking banyaknya buah yang tumbuh, pohon kelengkeng itu nampak seperti sedang membungkuk.
“Ini jenis kelengkeng new kristal. Dagingnya tebal, bijinya kecil, teksturnya renyah dan rasanya sangat manis,” ujar perempuan yang tinggal di Kalurahan Karangwuni, Wates, itu kepada mabur.co.

Meski telah bekerja sebagai seorang PNS, Irna adalah tipikal wanita yang tak bisa diam. Ia selalu mencari kesibukan untuk mengisi sisa waktu senggangnya. Bertani adalah salah satunya.
Untuk menambah penghasilan, tiga tahun terakhir ia mulai berkebun dengan cara menyewa lahan pasir yang banyak terbengkalai di sekitar tempat tinggalnya. Ratusan bibit kelengkeng kemudian ia tanam.
“Dibanding menanam cabai, saya lebih memilih kelengkeng. Karena hanya butuh modal sekali di awal, setelah itu bisa terus menerus panen. Perawatannya juga lebih mudah. Tidak seperti cabai yang riwil dan harganya sering jatuh,” katanya.
Kini setelah setahun lebih menanam, mayoritas pohon kelengkeng milik Irna telah mulai bisa dipanen. Meski belum maksimal, satu pohon kelengkeng miliknya setidaknya bisa menghasilkan 30 sampai 50 kilogram buah kelengkeng dalam satu kali musim panen.
Dengan total 100 pohon, serta harga jual sekitar Rp35 ribu per kilogram, bisa dihitung sendiri berapa penghasilan yang ia dapatkan dari hasil sampingan berkebun ini.
Selain dipasarkan dari mulut ke mulut ke teman-temannya di kantor maupun tetangga sekitar, Irna juga aktif menawarkan buah kelengkeng hasil panennya melalui media sosial seperti Tik Tok, Facebook hingga Instagram.
Agar bisa mendapatkan pemasukan tambahan, ia juga membuka wisata petik buah langsung di kebun kelengkeng miliknya. Tiketnya dipatok Rp30ribu per orang. Pengunjung bisa mencicipi buah kelengkeng di lokasi dengan sepuasnya. Namun jika hendak dibawa pulang, pengunjung tetap harus membeli dengan harga Rp35ribu per kilogram.
“Selain bisa beli langsung di kebun. Konsumen seperti teman-teman saya itu juga biasa beli dengan cara memesan. Nanti akan saya antar sendiri langsung ke rumah-rumah yang bersangkutan,” katanya.

Sebelum bisa memetik hasil seperti sekarang, usaha Irna mengelola kebun kelengkeng miliknya itu bukan tanpa hambatan. Di tahun-tahun awal, ia harus konsisten merawat ratusan pohon dengan sepenuh hati meski tak mendapat hasil sedikit pun karena pohon kelengkeng belum bisa dipanen.
Ia bahkan juga mengaku sempat frustasi karena kesulitan membuahkan pohon kelengkeng miliknya. Di mana saat diprogram menggunakan obat, pembuahan kelengkeng selalu gagal.
Tak hanya itu, setelah berhasil panen seperti saat ini pun, sejumlah hambatan masih ia hadapi. Mulai dari serangan hama kelelawar yang kerap menyerang, hingga perilaku tangan-tangan jahil orang tak bertanggung jawab yang kerap mencuri dan mengurangi hasil produksinya.
“Semua memang butuh proses. Yang penting kita ikhlas mencoba dan menjalaninya. Yakin nanti pasti ada hasilnya,” katanya.
Dari seorang perawat yang bisa bergelut dengan jarum suntik dan perban, Irna membuktikan bisa juga menjadi petani milenial sukses yang bisa membantu perekonomian keluarganya. ***



