Mabur.co — Terletak di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara, Desa Bawomataluo merupakan salah satu desa adat tertua yang ada di Indonesia.
Desa ini dikenal akan budaya megalitiknya berupa atraksi Fahombo atau Lompat Batu yang telah menjadi ikon Pulau Nias.
Tak hanya itu, desa adat ini juga menyimpan beragam budaya unik mulai dari tari tradisional, musik etnik, hingga kerajinan khas Nias.
Kini semua kebudayaan masyarakat Desa Bawomataluo itu bisa disaksikan dalam festival atau pagelaran budaya Bawomataluo Expo IV 2026.
Dorong Menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO
Ajang tahunan ini pun menjadi panggung pelestarian tradisi masyarakat Nias, sekaligus momentum penting untuk mendorong Desa Bawomataluo masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Festival bertajuk Gema Budaya Hilifamaedodano yang berlangsung pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2026 itu menghadirkan beragam atraksi budaya masyarakat Nias yang ikonik.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, yang membuka acara tersebut menilai Desa Bawomataluo memiliki nilai budaya yang sangat kuat karena tradisi megalitiknya masih bertahan dan dijalankan oleh masyarakat hingga kini.
“Yang ada di sini sangat unik. Budaya megalitik yang hidup hingga sekarang merupakan warisan budaya turun-temurun yang harus kita jaga bersama,” kata Fadli Zon, dalam rilis yang diterima mabur.co, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, keunikan tersebut menjadi modal utama untuk mengusulkan Bawomataluo sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Desa adat yang berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, itu selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan budaya paling autentik di Indonesia.
Selain memiliki rumah adat Omo Hada, Bawomataluo juga menyimpan peninggalan budaya megalitik berupa batu-batu upacara yang masih digunakan dalam berbagai ritual adat.
Banyak Situs Bersejarah
Berbeda dengan banyak situs bersejarah yang hanya menyisakan bangunan atau artefak, kehidupan adat di Bawomataluo masih berlangsung hingga sekarang.
Tradisi, tata ruang desa, hingga upacara adat tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di desa tersebut.
Inilah yang membuat desa tersebut dinilai sebagai living heritage atau warisan budaya yang masih hidup.
Fadli mengakui proses menuju pengakuan UNESCO tidak berlangsung singkat. Pengusulan harus melalui berbagai tahapan, termasuk pembuktian bahwa kawasan tersebut memiliki nilai universal yang luar biasa.
Meski demikian, pemerintah menilai peluang tersebut terbuka mengingat Bawomataluo telah lebih dulu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.
Bupati Nias Selatan, Sokhiatulo Laia, mengatakan penyelenggaraan Bawomataluo Expo menjadi salah satu langkah memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat upaya pengajuan UNESCO.
Ia berharap dukungan pemerintah pusat dapat mempercepat proses tersebut sehingga Bawomataluo semakin dikenal di tingkat internasional.
Promosi Budaya Gerakkan Ekonomi Lokal
Selain menjadi ajang promosi budaya, festival ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata, seni, dan kerajinan.
Selama sepekan pelaksanaan expo, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan budaya yang melibatkan seniman dan komunitas lokal, sekaligus menjadi ruang regenerasi bagi generasi muda untuk mengenal tradisi leluhurnya.
Melalui Bawomataluo Expo, diharapkan salah satu desa adat tertua di Indonesia ini dapat segera ditetapkan sebagai bagian dari daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO. Yakni sebagai salah satu ikon budaya Indonesia di mata dunia.
