Saat pagi ini, 1 Agustus 2026, sekitar jam 7, saya mendengar perupa Nasirun meninggal dunia, langsung teringat sepertinya dirinya tidak mempunyai riwayat penyakit yang berarti. Mungkin saja. Karena sudah lama saya tak sua perupa Nasirun. Tapi, kematian memang misterius. Keluhan yang ada pada Nasirun hanya sesak napas.
Bagi saya, sepanjang pernah ngobrol dengan Nasirun, ia orang yang cukup paham dengan budaya dan spiritualitas Jawa. Boleh dikata diksi-diksi yang dipilihnya saat ngobrol sufi banget.

Memang, saya suka dengan karya Nasirun yang berbasis wayang. Atau yang tentang visualisasi dirinya dengan postur yang sangat imajinatif, khas rambut panjang yang kadang-kadang diikat di belakang kepala.
Zakat Kebudayaan
Salah satu yang juga berkesan ketika berinteraksi dengan Nasirun adalah ketika ia bicara soal zakat kebudayaan. Saya tidak tahu, istilah ini autentik dari pikiran Nasirun atau hanya kutipan dari orang lain yang ia reproduksi. Maklum ia bergaul dengan banyak tokoh kebudayaan di Yogyakarta.
Diksi zakat kebudayaan tersebut saya suka sekali. Ketika saya cek ke google AI, saya ketik zakat kebudayaan, maka yang tertera adalah seperti ini: zakat kebudayaan adalah filosofi dan aksi moral yang dipopulerkan oleh maestro lukis Nasirun. Yakni menyisihkan sebagian rezeki atau hasil pencapaian seni untuk merawat, menyelamatkan, serta mendukung ekosistem karya, arsip, dan peradaban seniman pendahulu.
Ternyata google AI merekam dengan baik konsepsi Nasirun yang adiluhung. Sama sekali tidak salah dan memang benar.
Rupanya sisi kepedulian moral dan sosial memang menjadi ciri spiritualitas tersendiri pada sosok Nasirun dalam membumikan dirinya.
Tak kelewatan saya juga terkesan dengan galeri yang ada di dekat rumahnya. Banyak dipenuhi karya maestro dari pencapaian estetik perupa Indonesia mulai dari Sanggarbambu dan lainnya. Nasirun menyimpan dengan baik karya-karya perupa Indonesia yang legendaris. Itulah aset kebudayaan yang bisa jadi tak ternilai harganya.
Seusai wawancara dengan Nasirun di rumahnya pada 2015 untuk majalah seni rupa nasional Visual Arts saya pun pernah diberi lukisan drawing ukuran kecil.
Dari berbagai lukisan kecil yang terpampang di galeri rumahnya, Nasirun mempersilakan saya memilih dan dengan senang hati saya pilih yang ia beri judul Kiblat Papat Lima Pancer. Visualisasinya sebagaimana yang terpasang dalam website ini: ada kepala orang yang tenggelam lalu di bagian ubun-ubun ada perahu kecil yang bertengger.

Tidak jauh dari sepenggal kepala yang tenggelam itu ada sosok makhluk besar dengan tangan menjuntai, seperti manusia yang membungkuk, seperti kerbau namun tidak terlihat kepalanya.
Tentu saja saya tidak tahu maknanya dan hanya senang saja mendapatkan suvenir memikat dari seorang maestro seni rupa Indonesia dan dunia.
Siapa pun tahu reputasi Nasirun sudahlah melanglang jagat cukup lama. Saya sendiri melihat Nasirun moncer sejak menjadi pemenang lewat kompetisi Philip Morris Award pada 1997. Namanya melambung ke level internasional. Tentu banyak pameran di dalam dan luar negeri yang sudah pasti ia ikuti baik tunggal maupun bersama.
Banyak pula penghargaan yang sudah ia terima dan tentu saja kalau sudah terpilih dalam program Belajar Bersama Maestro Kemendikbud RI pada 2015, maka tak perlu disangsikan lagi dari kejeniusan karya-karyanya.
Selamat jalan Mas Nasirun, dulu pernah saya dengar canda tentangmu misalnya tak pernah punya ponsel pribadi yang dibawa ke mana-mana. Lalu ke mana-mana selalu naik motor dan di dompetmu jika bepergian, kabarnya selalu saja hanya membawa uang saku Rp100.000. Padahal kamu miliarder.
Hahaha…. Teringat Mas Nasirun selalu tersenyum lepas, mudah tertawa, dan memang mudah untuk berbahagia. Sambil mengelus rambut yang meruncing sebagai jenggot nan mesra itu. ***
