Dampak Kenaikan Harga Avtur, Jemaah Umrah DIY Turun 20 Persen

4 Min Read
Group of travelers in red traditional outfits with rolling white suitcases in a modern airport terminal with a sculpted ceiling.
Sejumlah jemaah umrah saat hendak berangkat ke Tanah Suci melalui bandara YIA Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) mulai memberikan dampak nyata terhadap penyelenggaraan ibadah umrah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Memasuki musim umrah 1448 Hijriah, jumlah jemaah yang berangkat melalui Yogyakarta dilaporkan mengalami penurunan sekitar 20 persen, seiring melonjaknya biaya tiket penerbangan yang membuat harga paket umrah ikut terkerek.

Seperti diungkapkan pengelola biro perjalanan haji dan umrah asal Yogyakarta PT Nur Ramadhan Internasional, Hamzah Kuwat Prasetya, saat ditemui di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Selasa (4/8/2026). 

Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan tren pada tahun-tahun sebelumnya, ketika Juli dan Agustus selalu menjadi salah satu periode tersibuk penyelenggaraan ibadah umrah.

Minat Umrah Tidak Turun

Hamzah menjelaskan, secara umum minat masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah sebenarnya tidak mengalami penurunan.

Antusiasme calon jemaah tetap tinggi, namun banyak di antara mereka akhirnya memilih menunda keberangkatan karena biaya perjalanan yang melonjak akibat kenaikan tarif penerbangan.

Ia mengatakan, kenaikan harga avtur memaksa maskapai penerbangan, baik domestik maupun internasional, melakukan penyesuaian tarif tiket menuju Arab Saudi. 

Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap harga jual paket umrah yang ditawarkan biro perjalanan.

“Perkembangannya memang ada perlambatan keberangkatan. Tingginya harga avtur membuat maskapai menaikkan harga tiket sehingga harga paket umrah ikut meningkat. Akibatnya banyak calon jemaah memilih menunggu harga kembali turun terlebih dahulu. Dari yang kami amati, penurunan jumlah jemaah saat ini sekitar 20 persen,” ujar Hamzah.

Menurutnya, fenomena tersebut membuat banyak masyarakat mengambil sikap wait and see. Mereka memilih menunda keberangkatan dengan harapan harga tiket pesawat dapat kembali normal dalam beberapa waktu ke depan sehingga biaya perjalanan menjadi lebih terjangkau.

Hamzah menilai kondisi tersebut cukup disayangkan karena periode Juli hingga Agustus biasanya menjadi salah satu peak season umrah. 

Pada masa itu, permintaan keberangkatan umumnya meningkat setelah memasuki tahun baru Hijriah. Namun pada musim ini, lonjakan biaya perjalanan justru menahan laju keberangkatan jemaah.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penurunan 20 persen tersebut masih merupakan gambaran kondisi awal musim umrah dan belum bisa dijadikan acuan untuk keseluruhan periode. 

Hal itu karena penyelenggaraan umrah menggunakan kalender Hijriah yang dimulai sejak pertengahan Juni 2026 dan akan berlangsung hingga April 2027.

“Kami belum bisa mengevaluasi secara tahunan karena musim umrah baru berjalan. Biasanya evaluasi dilakukan setelah seluruh periode umrah selesai,” katanya.

Biro Umrah Beri Paket Perjalanan Fleksibel

Di tengah kondisi tersebut, biro perjalanan umrah juga terus berupaya memberikan pilihan paket yang lebih fleksibel agar masyarakat tetap memiliki kesempatan menjalankan ibadah ke Tanah Suci.

Namun Hamzah mengakui ruang penyesuaian harga cukup terbatas karena komponen terbesar biaya perjalanan berasal dari tiket pesawat.

Ia berharap harga avtur dapat kembali stabil dalam waktu dekat sehingga maskapai dapat menurunkan tarif penerbangan. 

Dengan demikian, harga paket umrah diharapkan kembali kompetitif dan minat masyarakat yang saat ini tertunda dapat kembali terealisasi.

“Harapan kami tentu harga avtur segera turun sehingga harga tiket ikut menyesuaikan. Kalau biaya perjalanan kembali terjangkau, kami optimistis jumlah jemaah umrah akan kembali meningkat seperti biasanya,” pungkasnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar