Beksan Lawung Ageng, Mahakarya Tarian Perang Warisan Sri Sultan Hamengku Buwono I 

5 Min Read
Group of dancers in traditional red patterned outfits with headdresses, performing with long spears on a dim stage with red smoke in the background for a cultural performance.
Beksan Lawung Ageng, tarian perang yang diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwono I. (Foto: kratonjogja.id)

Mabur.co – Lahir pada 6 Agustus 1717, Sri Sultan Hamengku Buwono I tidak hanya dikenang sebagai pendiri Keraton Yogyakarta, tetapi juga sebagai sosok yang mewariskan berbagai karya seni budaya adiluhung.

Salah satu peninggalan itu adalah Beksan Lawung Ageng, tarian perang yang menggambarkan ketangkasan prajurit keraton dalam memainkan tombak sekaligus menjadi simbol keberanian dan jiwa ksatria. 

Dilansir dari situs resmi Keraton Yogyakarta, Jumat (7/8/2026), Beksan Lawung Ageng diciptakan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I sekitar abad ke-18. 

Latihan Militer Tradisional Keraton

Tarian ini lahir dari inspirasi sebuah latihan militer tradisional keraton yang dikenal sebagai watangan atau seton, yaitu latihan berkuda sambil memainkan tombak yang rutin dilakukan para Abdi Dalem Prajurit.

Pada masa itu, para prajurit saling menguji kemampuan menggunakan tombak berujung tumpul yang disebut lawung. Mereka menunggang kuda di Alun-alun Utara keraton sambil berusaha menjatuhkan lawan tanpa melukai. 

Suasana latihan tersebut biasanya akan diiringi bunyi gamelan Kiai Guntur Laut yang memainkan Gendhing Monggang, sehingga menciptakan atmosfer layaknya medan perang.

Tradisi keprajuritan inilah yang kemudian diangkat Sri Sultan Hamengku Buwono I menjadi sebuah karya tari klasik. Gerakan-gerakannya dirancang menyerupai latihan perang sesungguhnya, sehingga menghasilkan pertunjukan yang gagah, dinamis, dan penuh semangat heroik.

Dalam pementasannya, Beksan Lawung Ageng menampilkan adegan latihan perang dan adu ketangkasan dua kelompok prajurit. Setiap gerakan memiliki makna, mulai dari kesiapan menghadapi musuh, ketepatan menyerang, hingga pengendalian diri sebagai seorang ksatria.

Dialog Unik: Jawa, Madura, Melayu

Keunikan lain dari tari ini adalah penggunaan dialog yang memadukan bahasa Jawa, Madura, dan Melayu. Kalimat-kalimat yang diucapkan para penari mirip perintah komando khas dunia keprajuritan sehingga semakin memperkuat nuansa militer yang ingin ditampilkan.

Beksan Lawung Ageng dibawakan oleh 16 penari yang terbagi dalam lima karakter utama. Empat penari berperan sebagai jajar, yaitu prajurit muda yang penuh semangat dan memiliki gerakan tegas serta enerjik.

Sedangkan empat penari lainnya memerankan lurah, prajurit senior yang digambarkan lebih matang dengan gerakan yang lebih halus namun tetap gagah.

Selain itu terdapat dua tokoh botoh yang bertugas mengadu kemampuan kedua kelompok prajurit. Sementara empat penari ploncon bertugas membawa dan menyiapkan tombak sebelum digunakan.

Selain itu terdapat juga dua tokoh salaotho yang bertindak seperti punakawan dalam wayang yang  menghadirkan unsur humor sebagai pelawak kerajaan yang menghibur jalannya pertunjukan.

Seluruh peran tersebut berpadu membentuk pertunjukan yang tidak hanya menampilkan teknik tari tingkat tinggi, tetapi juga menggambarkan struktur organisasi militer Keraton Yogyakarta pada masa lampau.

Keagungan Beksan Lawung Ageng juga didukung oleh iringan musik yang khas. Tarian ini diiringi Gendhing Gangsaran, Roning Tawang, dan Bimakurda yang dimainkan menggunakan perangkat gamelan Kiai Guntur Sari.

Gamelan ini memiliki jumlah saron lebih banyak dibanding perangkat gamelan pada umumnya. Sehingga gamelan akan menghasilkan bunyi yang kuat dan bergemuruh seperti suara petir. Irama inilah yang menciptakan suasana dramatis dan menggambarkan semangat latihan perang para prajurit keraton.

Lebih dari Dua Abad

Meski telah berusia lebih dari dua abad, Beksan Lawung Ageng masih memiliki kedudukan sangat istimewa di lingkungan Keraton Yogyakarta. Tarian ini termasuk dalam kategori tari pusaka sekaligus tari kenegaraan yang hanya dipentaskan pada momen-momen penting kerajaan.

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah pementasan Beksan Lawung Ageng dalam rangkaian pernikahan agung putra-putri Sultan. 

Dalam setiap pementasannya, biasanya para penari akan ikut mengiringi kirab pengantin dari keraton menuju kepatihan dengan menunggang kuda. Yakni dengan dinaungi payung kebesaran kerajaan dan dikawal pasukan Bregada Wirabraja, serta diiringi gamelan Kiai Guntur Sari.

Pada masa lalu, Sultan bahkan tidak menghadiri resepsi pernikahan putra-putrinya di kepatihan. Sebagai gantinya, Beksan Lawung Ageng akan dikirim untuk mewakili kehadiran Sultan. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi kedudukan tarian ini dalam tata upacara keraton.

Beksan Lawung Ageng juga merupakan bagian dari rangkaian tiga tari pusaka, yaitu Lawung Ageng, Lawung Alit, dan Sekar Medura. Jika dipentaskan secara lengkap, ketiga tarian tersebut dapat berlangsung hingga sekitar lima jam.

Hingga kini Beksan Lawung Ageng tetap hidup sebagai salah satu mahakarya budaya Keraton Yogyakarta warisan Sri Sultan Hamengku Buwono I yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar