Mabur.co – Berawal dari keprihatinan melihat sampah berserakan di lingkungan sekitar rumah, seorang seniman asal Kulon Progo berhasil menciptakan karya seni unik dari bahan limbah buah kelapa.
Buah kelapa tua yang biasanya hanya dibuang ke sungai atau dibakar sehingga mengotori lingkungan, mampu ia sulap menjadi beragam boneka figur unik dan lucu yang bisa dimainkan layaknya sebuah wayang hingga orang-orang menyebutnya Wayang Cumplung.
Ialah Teguh Paino (50) seniman asal Dusun Gunung Gempal, Kalurahan Giripeni, Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang membuat karya seni unik bernama Wayang Cumplung itu.
Kepada mabur.co, Teguh menceritakan bagaimana ia tergerak untuk mendaur ulang sampah organik menjadi sesuatu yang lebih berguna.
“Di Kulon Progo ini banyak sekali tumbuh pohon kelapa. Sehingga limbahnya juga di mana-mana. Kadang hanya dibiarkan berserakan di sekitar halaman rumah. Kadang dibuang ke sungai sehingga terbawa arus sampai ke muara,” katanya.
Tak ingin melihat lingkungan di sekitar tempat tinggalnya dipenuhi sampah, Teguh pun berinisiatif untuk memanfaatkan. Sebagai seorang seniman, nalurinya pun mendorong untuk membuat sebuah karya seni.
“Awalnya limbah buah kelapa itu saya buat jadi karya seni instalasi. Saya rangkai dengan tali lalu saya gantungkan ke ruangan. Setelah itu saya punya ide lagi untuk membuat menjadi boneka. Mirip seperti wayang,” katanya.
Disebut Wayang Cumplung, karena dalam bahasa Jawa, cumplung adalah sebutan dari buah kelapa tua yang sudah berlubang. Biasanya buah kelapa ini tidak dipanen, karena isinya telah habis dimakan tupai. Hal itulah yang membuat cumplung kerap berserakan di halaman rumah warga.
“Boneka atau Wayang Cumplung itu saya buat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas yang sederhana. Mulai dari bambu, batok kelapa, ijuk, dan sebagainya,” katanya.

Selain bisa dimanfaatkan sebagai hiasan ruangan, boneka itu juga bisa dimainkan dan menjadi tokoh atau karakter dalam suatu cerita. Teguh pun mengaku kerap memainkannya di hadapan anak-anak sekitar rumahnya.
“Biasanya saya mainkan dengan mengangkat lakon atau cerita terkait isu lingkungan. Ya cerita-cerita sederhana agar anak bisa teredukasi dan memiliki wawasan soal lingkungan,” bebernya.
Selain untuk menyalurkan darah seni, Teguh mengaku sengaja membuat boneka dari bahan limbah kelapa itu dengan harapan sederhana. Yakni untuk mengurangi volume sampah yang ada di sekitar lingkungan kampung.
Namun siapa sangka, melalui hasil karyanya itu, Teguh justru berhasil mendapatkan juara 3 sayembara karya seni dari sampah tingkat internasional. Yakni pada ajang International World Water Forum 2024 di Bali. Tepatnya untuk kategori 3D setelah berhasil mengalahkan ratusan pesaing dari berbagai negara lainnya.
Meski telah mendapat penghargaan dan mengikuti berbagai pameran seni instalasi di berbagai daerah, Teguh yang merupakan alumni Fakultas Seni Rupa ISI Yogya tahun 2001 ini mengaku, masih ingin terus mengembangkan karya seni boneka atau Wayang Cumplung ciptaannya itu.
Yakni dengan menambah jumlah karakter atau figur-figur baru, sehingga suatu saat nanti, ia bisa mementaskan boneka atau Wayang Cumplung itu dalam sebuah pementasan besar seperti layaknya pertunjukan wayang kulit atau wayang-wayang lainnya. ***



