Membaca Peta Industri Buku, Penjualan di TikTok Bisa Laku Keras

5 Min Read
Panel discussion with three men seated on wooden chairs in a bright event space; one speaks into a microphone while another wears a white t-shirt with 'Suku Sastra' on it, backdrop features orange banners with artwork and logos.
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wawan Arif Rahmat (tengah), bersama pegiat literasi Fairuzul Mumtaz, saat dialog sastra. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Industri penerbitan buku merupakan salah satu sektor yang bertanggung jawab terhadap budaya membaca anak bangsa. Berkaitan erat dengan tingkat literasi dari penduduk sebuah negara.

Menyadari hal ini, para pelaku industri penerbitan di Tanah Air pun terus berinovasi, guna terus meningkatkan kemampuan dan minat baca para generasi muda Indonesia.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wawan Arif Rahmat, menuturkan, dinamika orang berjualan buku sekarang ada buku bajakan dan ada model digital.

Menurut Wawan, berbeda dengan dulu. Jika menemukan buku hanya bisa melalui toko buku. Sementara betapa sedikitnya sebenarnya toko buku yang ada saat itu.

“Kita mungkin beruntung, sejak zaman dulu di Kota Yogyakarta,  meskipun hitungannya juga sedikit tetapi cukup ada beberapa alternatif.  Misalnya, jaringan toko buku besar seperti Gramedia, Social Agency, Togamas, dan Shopping.

“Shopping dulu kios-kiosnya ada di Terban, misalnya. Bayangkan, kalau kita tidak di Kota Yogyakarta, misalnya di Berau, Kalimantan atau di Lampung. Kita bisa menemukan satu kios buku kecil, sangat beruntung sekali. Artinya memang ada keterbatasan ruang. Bagaimana sebagai pembaca kita ingin ketemu buku, sebagai penjual mungkin ingin mendistribusikan buku,” ucapnya.

Wawan mengatakan, buku sebagai alat belajar-mengajar dari dulu memang wajib. Dari dulu semua sekolah dari Sabang sampai Merauke wajib punya acuan buku.

“Hari ini tiba-tiba kita semua disuruh belajar lebih awal tentang peradaban digital. Tiba-tiba kran-krannya itu terbuka. Artinya hari ini justru semuanya menjadi terbuka dan itu benar-benar punya banyak pilihan. Ingin menseriusi yang mana. Misalnya kita mengenal hari ini ada Loka Pasar, kita bisa berjualan di situ. Kalau teman-teman melihat banyak sekali yang memang penjualannya juga fenomenal di marketplace. Fenomenal itu bahkan mencapai ratusan ribu, kemudian hari ini juga muncul banyak event seperti ini.

Toko buku pun setelah pandemi sekian tahun itu sebenarnya sudah memperbarui dirinya sendiri. Artinya beberapa toko yang mungkin waktu pandemi itu terpaksa menutup gerainya hari ini sudah tumbuh kembali. Ada yang bahkan tumbuh dengan cara yang benar-benar baru, ada yang baru tumbuh dengan model baru,” ucapnya, Minggu (23/8/2026).

Toko Buku Menyesuaikan Tren Anak Muda

Wawan melihat, hari ini di gang-gang kecil di sudut-sudut kota Jogja atau bahkan pinggiran bisa menemukan anak muda dengan gairah membuat coffee shop dilengkapi dengan book shop kecil-kecilan.

Toko buku Gramedia sekarang menyulapnya dengan gerai buku sekaligus coffee shop. Banyak berdiskusi dengan anak-anak muda Kota Yogyakarta, tren apa yang sedang ada di kota Yogyakarta.

“Kita harus pandai-pandai menentukan mana yang menjadi fokus. Kalau dulu mungkin pilihannya hanya satu, dua jalur,  sekarang semua jalur bisa, tetapi mungkin kita yang harus berhati-hati dengan apa yang mungkin kita seriusi,” katanya.

Sementara itu, pegiat literasi Fairuzul Mumtaz menuturkan, sepulang dari Taman Budaya Embung Giwangan, jam 12.00 malam. Sampai rumah disambut istri.

Penjualan di Tik Tok Bisa Laku Keras

Cerita malam itu adalah ada kabar baik bahwa penerbit yang menerbitkan karyanya sudah tiga kali mendapat penghargaan dari TikTok karena penjualan tinggi.

“Nah ini kan satu industri yang menyenangkan. Bahwa di TikTok buku bisa tinggi penjualannya.  Tidak hanya fashion atau barang-barang yang lain tapi buku juga menjadi yang tertinggi di TikTok.

Teman sastrawan Mahfud Ikhwan, pernah bercerita sama saya. Buku dia itu sudah dijadikan rumah buat dia karena bukunya dibeli Falcon untuk difilmkan. Meskipun  beberapa penulis yang lain masih berjuang keras. Tentu saja ini soal pertama adalah soal karya yang berkualitas dan soal momentum. Karya bagus jika tidak  ketemu momentum ya kasihan. Ada juga Andrea Hirata meskipun di kalangan teman-teman sastra kurang dianggap nyastra tetapi dia menemukan momentum yang bagus, langsung meledak. Padahal sebelum meledak itu ditawarkan ke beberapa penerbit tidak ada yang mau,” katanya.

Karya Andrea Hirata tersebut terbit pada 2005 di Bentang. Bentang ini sendiri satu penerbit yang awalnya penerbit rumahan di Jogja.

Meskipun ketika sudah diterbitkan Andrea Hirata kemudian bertransformasi pada satu penerbitan besar. Tetapi itu diawali oleh sebuah proses panjang, jatuh bangun penerbit rumahan.

“Zaman sekarang, kita harus berpikir bagaimana kelanjutan produksinya. Harus mulai mikir soal manajemen. Jadi tidak kayak dulu,“ katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar