Mabur.co – Setelah dilanda musim kemarau panjang dan karhutla, hujan deras akhirnya mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Barat pada Jumat malam.
Hujan yang turun diharapkan mampu membantu memadamkan api, sekaligus mengurangi kepulan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah.
Hujan deras mulai turun di Kabupaten Kubu Raya, sekitar pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, pada Jumat sore, hujan sudah terlebih dahulu turun di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Dengan turunnya hujan ini diharapkan mampu menghilangkan asap dan membantu memadamkan api secara efektif. Sebab, hingga kini dampak dari kemarau panjang dan karhutla, warga Kalimantan Barat sudah mengalami krisis air bersih.
Kabiro Humas Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian wilayah Kalimantan Barat. Hujan terjadi pada 4 September 2026 membantu upaya pembasahan lahan.
“Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko kebakaran karena sejumlah titik panas masih terdeteksi. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, masih terdapat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah,” katanya dilansir dari Kemenhut, Minggu (6/9/2026).
252 Titik
Ristianto mengatakan, di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 252 titik. Disusul Sumatra Selatan 165 titik dan Kalimantan Barat sebanyak 124 titik.
Sementara itu, Jambi tercatat 14 titik, Riau 13 titik, dan Kalimantan Selatan empat titik. Ristianto menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak selalu menunjukkan satu kebakaran.
“Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya.
Ristianto mengatakan, Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak lainnya terus melakukan patroli. Dan juga groundcheck, pemadaman darat, penyekatan api, mopping up, dan pendinginan.
Armada Udara dan Operasi Darat
Selain operasi darat, pemerintah juga mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sedangkan 34 armada lainnya dikerahkan untuk operasi water bombing. Menurutnya, pengerahan armada udara dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Terutama untuk mempercepat pengendalian api di wilayah yang sulit dijangkau melalui operasi darat. Khusus di Kalimantan Barat, hujan yang turun pada 4 September membantu meningkatkan kelembapan dan pembasahan lahan.
“Pada lahan gambut, pemadaman dan pendinginan harus dilakukan secara berulang. Untuk memastikan api bawah permukaan tidak kembali menyala,” katanya.
Ristianto, menuturkan, Kemenhut juga terus memantau kualitas udara, cuaca, sebaran asap, serta jarak pandang secara terpadu untuk menentukan prioritas operasi.
“Kemenhut mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar,” katanya.
