Mabur.co — Sebagai daerah penghasil kopi terbaik, Aceh dikenal memiliki berbagai jenis kopi unik. Salah satunya Kopi Sanger yang merupakan minuman khas yang lekat dengan budaya masyarakat Aceh.
Minuman ini bukan sekadar susu biasa. Pasalnya kopi Sanger memiliki racikan, cara penyajian, hingga cerita terkait asal-usul dan sejarah kemunculannya.
Dilansir Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Kamis (10/9/2026), Kopi Sanger pertama kali dikenal di era tahun 1980-an. Dibuat dari kopi yang dicampur sedikit susu kental manis dan gula.
Aroma Kopi Sanger Dominan
Takaran susu yang relatif sedikit membuat rasa dan aroma kopi Sanger tetap lebih dominan dibandingkan kopi susu pada umumnya.
Pada awalnya, Kopi Sanger muncul dari kebiasaan mahasiswa di Aceh yang memiliki anggaran terbatas tetapi ingin menikmati kopi di warung.
Mahasiswa dan pemilik warung kopi kemudian bernegosiasi membuat kopi susu dengan porsi susu lebih sedikit agar harganya lebih murah.
Dari situlah istilah Kopi Sanger muncul. Yakni berasal dari ungkapan “sama-sama ngerti”.
Keunikan cita rasa, sejarah, hingga budaya masyarakat yang melekat pada Kopi Sanger itulah yang kemudian diangkat melalui Sanger Day Fest 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, pada 11–14 September 2026 ini.
Dilansir dari situs sangerdayfest, festival ini digelar dengan memadukan berbagai acara terkait kuliner, seni, budaya, hingga anak muda.
Lewat festival ini pengunjung tidak hanya diajak mencicipi Kopi Sanger namun juga mengenal sejarah asal-usul dan budayanya.
Dibuat dengan Cara Tradisional
Termasuk cara penyajiannya yakni dengan cara diseduh secara tradisional menggunakan saringan kain berbentuk kerucut. Lalu dicampur susu dan dituangkan bolak-balik dari ketinggian tertentu untuk menghasilkan busa halus (buih) di permukaannya.
Selain itu untuk memeriahkan acara sejumlah kegiatan lain juga disiapkan. Di antaranya Sanger Talks dan lokakarya, pameran Sanger Corner, pertunjukan budaya, mural, hingga kegiatan seni kreatif.
Ketua Panitia Sanger Day Fest 2026, Nasrul, mengatakan, salah satu hal yang diangkat tahun ini adalah buku “Sangerology”.
Buku tersebut dirancang sebagai proyek kolektif melibatkan masyarakat, budayawan, akademisi, sastrawan hingga penikmat kopi untuk ikut menyumbangkan ttulisan mereka mengenai Kopi Sanger.
Di Aceh, budaya minum kkopi memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial masyarakat Aceh. Warung kopi tidak hanya menjadi tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang untuk berbincang, berdiskusi dan bertemu dengan orang lain.
Tak terkecuali Kopi Sanger yang awalnya hanya merupakan minuman sederhana di kalangan mahasiswa namun dapat berkembang menjadi bagian dari identitas budaya dan kreativitas masyarakat Aceh hingga saat ini.
