Mabur.co – Kawasan wisata Kaliurang, Pakem, Sleman, Yogyakarta, selama ini dikenal memiliki banyak bangunan kuno peninggalan era kolonial Belanda.
Mayoritas bangunan yang difungsikan sebagai bungalow, vila, atau pesanggrahan itu memiliki desain arsitektur bergaya Indis dengan sentuhan Art Deco yang populer di era 1920-an.
Namun dari sekian banyak bangunan itu, ada satu yang nampak menyolok karena memiliki gaya arsitektur unik dan berbeda dari lainnya.
Bangunan itu adalah Wisma Gadjah Mada yang terletak di Jalan Wrekso Nomor 447, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman.

Mirip Rumah Gadang di Sumatra Barat
Sepintas bangunan ini mirip seperti rumah gadang di Sumatra Barat. Atapnya menjulang dan melengkung seperti tanduk. Sementara atap lainnya terlihat memiliki tiga susun atap.
Saking uniknya masyarakat sekitar kerap menjuluki bangunan ini sebagai Loji Cengger atau Jengger karena atapnya yang dianggap menyerupai jengger ayam.
Baca juga : Dinas Kebudayaan Sleman Ajak Komunitas Sejarah Telusuri Kawasan Cagar Budaya Kaliurang
Dilansir dari situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Kamis (17/9/2026), Wisma Gadjah Mada dibangun sekitar tahun 1919 oleh seorang warga Belanda bernama Tuan Dezentje.

Seperti halnya bangunan bergaya Indis lainnya di Kaliurang diduga bangunan ini dulu digunakan sebagai vila atau rumah peristirahatan kaum elite Belanda.
Bagian paling menyolok dari Wisma Gadjah Mada adalah atapnya. Atap bangunan utama dibangun menyerupai rumah tradisional Minangkabau yang disebut bagonjong.
Hal itu terlihat pada setiap bangunan inti yang dibuat melengkung di bagian ujung. Menariknya, susunan atap bagonjong pada bangunan ini tidak dibuat seragam. Bagian atap pada bangunan yang menghadap ke timur nampak memiliki satu susun atap.
Lalu bangunan di sisi utara memiliki dua susun atap, sedangkan sisi barat memiliki tiga susun atap. Seluruh atap tersebut dibuat menggunakan sirap atau lempeng kayu tipis yang disusun. Sementara bagian tutup keyong atau gunungannya dilapisi anyaman bambu atau gedhek.

Kombinasi tersebut menghasilkan bentuk bangunan yang sangat khas dan berbeda dari kebanyakan bangunan kolonial di Yogyakarta.
Baca Juga: Notulen Kaliurang, Enam Dalil KTN Jamin Indonesia Tetap Pegang Kedaulatan
Kompleks Wisma Gadjah Mada sendiri terdiri atas enam bangunan, yakni satu vila utama, empat bangunan pendukung, dan satu bangunan tambahan.
Bangunan utama berada di tengah kompleks dan terdiri atas dua lantai yang mengikuti kontur tanah. Di dalamnya terdapat ruang sidang atau aula, ruang makan, kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, gudang, ruang penjaga, serta teras atau balkon.
Di sisi utara dan selatan bangunan vila utama terdapat sejumlah paviliun yang cukup luas. Begitu juga halamannya yang juga memiliki taman hingga kolam.

Menjadi Saksi Perundingan KTN
Selain memiliki keunikan dari sisi arsitektur, Wisma Gadjah Mada ini ternyata juga menyimpan jejak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Dilansir dari situs Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (17/9/2026), Wisma UGM ini juga turut digunakan dalam peristiwa perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) pada 13 Januari 1948, yang berlangsung di Kaliurang. Wisma ini digunakan sebagai tempat menginap delegasi Belgia.

Tak hanya itu, wisma ini juga pernah digunakan Tentara Indonesia sebagai markas perlawanan saat terjadi Agresi Militer II Belanda di tahun yang sama.
Baca Juga: Kawasan Kaliurang Yogya Sudah Penuh Hotel dan Vila Sejak Akhir Abad ke-19
Setelah situasi berubah, fungsi bangunan kembali berkembang. Mulai 1965, Wisma Gadjah Mada digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu Universitas Gadjah Mada.
Bangunan tersebut kemudian dipugar dan diresmikan oleh Rektor UGM Prof. dr. T. Jacob pada 12 Januari 1985. Pemugaran dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk luar bangunan.
Kini, Wisma Gadjah Mada dimiliki Universitas Gadjah Mada dan dikelola PT Gama Multi Usaha Mandiri. Meski sebagian nampak rusak, bangunan ini tetap difungsikan sebagai ruang berkumpul atau menggelar acara.
