Mengenal Bahasa Polewali Mandar (Bagian 6)

3 Min Read
Large wooden stilted building with a grand central staircase, open verandas, and people nearby under a cloudy sky.
Boyang Kaiyyang (Rumah Besar) di Taman Budaya Mandar Sulbar. Dok. Pribadi

Berbeda pula dengan pola dialektika bahasa di Polewali Mandar (Polman). Dari Tinambung hingga Mapilli, cenderung mampu mempertahankan bahasa lokal mereka.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-nosu-mamasa-dalam-upacara-pernikahan-bagian-5/

Meskipun ada beberapa sub bahasa yang berbeda dan unik di seputaran Campalagian hingga perbatasan Wonomulyo yang menggunakan bahasa Kone-Konee.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/eksotika-bahasa-dan-kampung-nosu-mamasa/

Jenis bahasa ini juga hampir punah. Selebihnya, ke arah pedalaman Polman lebih banyak dipengaruhi rumpun bahasa Ulu Salu (pegunungan).

Baca Juga: Baca Juga: https://mabur.co/kolom/rumpun-bahasa-mandar-sulbar-di-mamuju-tengah-dan-majene-bagian-3/

Sangat nampak berbeda mulai dari Wonomulyo (kecamatan dengan penduduk suku bangsa Jawa terbanyak di Polman sejak 1937) hingga ke Polewali Mandar perkotaan.

Aerial view of a green mosque with white domes and two tall minarets in a town, with mountains in the background.
Lanskap Kota Polewali Mandar. Foto: PikiranRakyatSulbar

Penggunaan bahasa Mandar Raya dan juga bahasa lain rumpun Ulu Salu banyak digunakan di Polman, semisal bahasa Pattae, Pattinjo dan lain-lain, nampak tidak terlalu banyak digunakan dalam komunikasi di perkotaan sehari-hari.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/nasib-bahasa-daerah-rumpun-mandar-sulawesi-barat-bagian-2/

Lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dialek Mandar atau di bawah pengaruh bahasa Bugis-Makassar.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/

Di wilayah-wilayah inilah sangat jelas dalam berbagai catatan sejarah, bahkan sebelum kemerdekaan, arus urbanisasi begitu besar di peta-peta geografis tersebut.

Artinya, kurang lebih yang saya gambarkan sejak awal bahwa faktor asimilasi bahasa akan menyebabkan terjadinya tarik menarik atau dorong mendorong antara bahasa yang satu dengan yang lainnya, sehingga bertahan dan tidaknya suatu bahasa akan sangat dipengaruhi oleh bahasa mana yang pada akhirnya lebih masif digunakan dalam suatu masyarakat.

Negosiasi Kekuasaan yang Sunyi

Tetapi mungkin juga tarik-menarik bahasa di suatu daerah adalah negosiasi kekuasaan yang sunyi. Bahasa ibu bertahan sebagai penjaga identitas dan ritual adat, bahasa pendatang masuk sebagai alat dagang dan mobilitas sosial.

Sementara bahasa nasional menekan dari atas lewat sekolah dan birokrasi. Ketiganya tidak saling menghapus, melainkan saling meminjam kosakata, menggeser lafal, dan merebut ruang prestise.

Kadang bahasa lokal menguat di rumah, melemah di pasar. Kadang bahasa pendatang menjadi jembatan, lalu perlahan menjadi dominan.

Itulah dialektika bahasa: hidup dalam ketegangan, bertahan karena saling memengaruhi, bukan karena saling meniadakan.

Bertahan Karena Saling Memengaruhi

Dengan demikian apa pun nasib dan kondisi terkini suatu bahasa mestilah menjadi keprihatinan bersama, sebab sekali lagi bahasa adalah nilai budi pekerti bangsa.

Kemampuan berbahasa adalah juga tolok ukur kemuliaan dan moralitas seseorang.

Anna iyatuu olo-olo’ pituyu’na nitu’galang, anna iyya rupa tau, paunna dzitu’galang. Artinya yang membedakan manusia dan hewan: pada hewan kita dapat memegang talinya, namun pada manusia kita dapat memegang kata-katanya.

Begitulah para tetua Mandar mengajarkan kepada kita nilai etika dan moralitas dalam bahasa. (Bersambung)

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar