Mabur.co – Wayang kulit bukan hanya sekadar tontonan budaya. Lebih dari itu, kesenian tradisional ini juga merupakan media untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada masyarakat.
Hal itulah yang terlihat dalam pagelaran wayang kulit dengan lakon Babat Alas Wanamarta yang digelar di halaman Pendopo Yayasan Fattaid Fiina, belum lama ini.
Esensi Perjuangan Pandawa
Menariknya, lakon wayang yang berkisah tentang perjuangan Pandawa ini pun dimainkan agar bisa memaknai perjalanan santri dalam belajar dan menghafal Alquran.
Dalang remaja, Ki Gibran Maheswara, mengatakan Babat Alas Wanamarta mengandung banyak pesan tentang perjuangan menghadapi berbagai rintangan.
Dalam kisah tersebut, Pandawa harus menghadapi tantangan ketika membuka hutan Wanamarta hingga akhirnya berhasil mengubah menjadi tempat yang bermanfaat.
Gambaran Santri Menghadapi Rasa Malas
Menurut Ki Gibran, kisah itu dapat menjadi gambaran bagi santri yang harus menghadapi rasa malas, lelah, lupa, dan berbagai godaan ketika belajar serta menjaga hapalan Alquran.
“Seperti Pandawa yang harus menghadapi berbagai tantangan, para santri juga harus melawan rasa malas, lelah, lupa, dan godaan lainnya. Tetapi dengan kesabaran, istiqamah, disiplin, doa, serta semangat pantang menyerah, sedikit demi sedikit hapalan Alquran akan tertanam dalam hati,” ujarnya dikutip rilis resmi NU Jateng, Jumat (18/9/2026).
Pesan keagamaan juga akan terlihat dari cara kisah Pandawa dimaknai. Perjuangan membuka hutan menjadi simbol bahwa kesulitan dapat dihadapi dengan keberanian, kerja keras, doa dan kebersamaan.
“Pandawa mengajarkan bahwa kekuatan tidak hanya berasal dari kesaktian, tetapi juga dari kebersamaan dan atas izin dari Allah SWT,” ujarnya.
Bagi Yayasan Fattaid Fiina, penggunaan wayang sebagai bagian dari kegiatan keagamaan merupakan upaya menyampaikan dakwah melalui budaya yang sudah dekat dengan masyarakat.
Seni sebagai Daya Tarik Berbagai Kalangan
Salah satu panitia, Robet Fernanda, mengatakan kesenian dipilih karena memiliki daya tarik bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
“Yayasan Fattaid Fiina mengadopsi pendekatan tersebut (pagelaran wayang kulit) di tengah masyarakat yang kental terkait hiburan dan kesenian. Harapannya, di usia ke-16 tahun, Fattaid Fiina bisa menjadi pionir dakwah, kebaikan, serta pergerakan masyarakat dalam mengenal agama dengan suri teladan yang baik,” kata Robet.
Ia mengatakan, lakon Babat Alas Wanamarta juga dianggap relevan dengan perjalanan Yayasan Fattaid Fiina dalam mengembangkan pendidikan Alquran dan dakwah di tengah masyarakat.
