Jika hari ini Wonomulyo adalah pasar paling ramai di Mandar, maka 90 tahun lalu ia hanyalah hutan rimba perawan yang gelap. Nyamuknya setebal kabut. Pohonnya sebesar rumah. Hutan itu berada di Distrik Mapilli, di bawah Swapraja Balanipa, Mandar, sekarang Sulawesi Barat.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kampung-jawa-di-tanah-mandar-bagian-1/
Waktu itu namanya belum Wonomulyo. Oleh Belanda ia disebut Kolonie Mapilli. Pada 1937, gelombang pertama manusia Jawa didatangkan, program kolonisasi dimulai Belanda sejak 1905 untuk memindahkan orang-orang dari Jawa yang padat ke Celebes (Sulawesi). Mereka bukan datang dengan traktor.
“Kakek saya cerita, bekalnya cuma cangkul, kapak, sama parang. Satu kepala keluarga dapat jatah hutan 2 hektare untuk dibuka. Tidak ada gergaji mesin,” kata Mbah Sastro yang kini berusia 87 tahun, generasi pertama kelahiran Sidorejo-Wonomulyo, cucu kolonis asal Kediri, saat ditemui di rumahnya, dekat Pasar Wonomulyo.
Luka Malaria
Luka pertama itu bernama malaria. Hutan yang lembab menjadi sarang nyamuk ganas.
“Banyak yang mati kedinginan menggigil. Obatnya cuma kina dari mantri Belanda. Kalau demam, ya dibungkus sarung, berdoa. Kuburan pertama di sini bukan karena tua, tapi karena malaria dan disentri,” ujar Mbah Sastro, matanya berkaca-kaca.
Tugas mereka, menebang pohon raksasa hanya dengan kapak, membakar tunggulnya, lalu mencangkul akar yang sedalam paha. Kayu besar mereka belah jadi papan dengan gergaji besar manual yang ditarik dua orang, gergaji olak-alik.
Dari luka itulah nama kota kecil ini lahir. Seperti versi yang paling banyak dikutip oleh media dan peneliti, dalam sebuah syukuran kecil fancy fair yang dipimpin wedana kolonisasi R. Soeparman, hutan perawan itu diganti nama menjadi Wonomulyo. Dengan harapan kelak hutan ini akan memuliakan dan membahagiakan penduduk di sekitarnya.
Episentrum Ekonomi
Hutan yang diolah dengan baik akan memberi kebahagiaan. Dan itu terbukti, dari 3.500 hektare awal yang dibuka dengan darah dan kina, Wonomulyo kini menjadi episentrum ekonomi.
Pasar sentralnya menjadi pusat perdagangan di Sulawesi Barat hari ini. Menariknya, luka itu tidak membuat mereka membenci hutan itu.
Mereka justru lebur, masuk menjadi bagian dari bersatunya alam dan manusia, manusia dengan manusia, manusia Mandar dan manusia Jawa lebur jadi satu dalam pasedhuluran serta palluluareang (persaudaraan).
Mereka orang Jawa, tapi juga sekaligus menjadi orang Mandar.
“Waktu buka hutan dulu kami dibantu orang Mandar. Mereka ajari kami bikin rumah panggung yang kuat supaya tidak dimakan rayap dan banjir. Kami ajari mereka menanam padi sawah. Jadi luka ini kami tanggung bersama,” tutup Mbah Sastro.
Memang begitulah prinsip persaudaraan orang Mandar, mereka terbuka dengan pendatang asal saling menghargai dan menghormati.
Sebab “mua’ mudzundumi uwai Mandar, Mandar moo tuu!”. Begitu engkau meminum air Mandar, maka jadilah engkau orang Mandar. Hal itu pernah diungkapkan Aba Tammalele, Budayawan Mandar. ***
