Mabur.co – Orang Yogyakarta menyebut barat adalah kulon, sebab itu ada Kabupaten Kulon Progo, karena posisinya di sebelah barat sungai atau Kali Progo.
Kali ini bukan kali kecil. Panjangnya 140 kilometer, dari Gunung Sindoro di Temanggung, memotong Kedu, turun ke Yogyakarta, muaranya di Pantai Trisik.
Bagi keraton, kali atau Sungai Progo adalah pagar.
“Keraton Yogyakarta dianggap suci karena diapit enam sungai secara simetris yaitu Sungai Code, Gajah Wong, Opak Winongo, Bedhog dan Sungai Progo,” tulis Tribunnews tentang garis imajiner Merapi-Keraton-Laut Kidul. Code di timur, Winongo-Bedhog di tengah, Progo paling barat sebagai benteng alami.
Kali Progo itu Selangnya Keraton
Sultan Hamengku Buwono I ketika memilih hutan Beringin 1755 setelah Perjanjian Giyanti, sengaja mengambil lahan di antara sungai-sungai itu.
Air adalah kesucian, Progo adalah batas keistimewaan yang tidak dibuat manusia. Karena batas, Progo jadi tempat pelarungan setiap Suro, saat keraton punya tradisi Labuhan. Uba rampe seperti kain, makanan, potongan kuku Sultan dilarung ke Merapi dan ke Laut Selatan. Tapi sebelum sampai ke Parangkusumo, sebagian dilarung ke Kali Progo di wilayah Moyudan dan Minggir.
Orang tua di Moyudan bilang: “Kali Progo itu selangnya keraton”. Apa yang dibuang di keraton, dicuci di Progo.
Mbah Sastro, 78, juru kunci makam Pangeran Joyokusumo di Kokap, Kulon Progo, pernah cerita: sejak Van der Wijck bangun Selokan Mataram 1944, air Progo dialirkan ke timur untuk sawah.
Itu politik, Belanda ingin sawah Yogyakarta subur agar tidak berontak. Keraton setuju, karena Progo memberi makan.
Selain sebagai sumber air irigasi, Kali Progo juga memiliki peran penting dalam penambangan pasir di daerah muaranya.
Dijaga Nyai Progo
Di sepanjang aliran Kali Progo juga terdapat sebuah selokan. “Dikenal sebagai Selokan Mataram atau Selokan Van Der Wijck,” tulis ExploreYogya.
Tapi Progo juga penyelamat. Oktober 1825, Diponegoro terkepung Jenderal De Kock di Kasihan. Tiga kolone, 1.258 orang.
“Diponegoro berhasil meloloskan diri dari kepungan lawan bergerak ke Gegulu di tepi barat Sungai Progo. Dengan susah payah pasukan yang dipimpin Mayor Sollewijn berhasil sampai Gegulu, dan menemukan desa ini telah kosong dan dibakar,” tulis RCTIPlus mengutip Sejarah Nasional Indonesia IV.
Progo banjir malam itu. Belanda tak bisa menyeberang. Diponegoro lolos.
Di novel Cantik itu Luka, Eka Kurniawan tulis satu baris yang sering dibaca anak-anak Moyudan: sungai adalah tempat orang membuang kenangan yang tidak ingin diingat keraton.
Hari ini di Moyudan, tempatmu tinggal, setiap anak tahu kalau melempar batu ke Progo saat senja, harus bilang nuwun. Karena di bawahnya ada Nyai Progo, penjaga barat.
Keraton tidak pernah membuat patungnya, tapi setiap abdi dalem yang lewat Jembatan Bantar, menunduk. Progo bukan milik keraton, tapi keraton tidak bisa hidup tanpa Progo. ***
