Mabur.co – Sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu, Jambi memiliki bangunan masjid kuno bersejarah yang berusia lebih dari 150 tahun.
Masjid itu adalah Masjid Agung Pondok Tinggi di Kota Sungai Penuh, Jambi. Masjid ini memiliki bentuk arsitektur unik yang jarang dijumpai pada bangunan masjid pada umumnya.
Berdiri sejak 1874 masjid ini nampak memadukan tradisi bangunan lokal dengan unsur seni Islam, terlihat dari atap tumpang tiga, tiang-tiang kayu, serta ukiran yang menghiasi bagian dalam dan luar.
Dilansir mabur.co dari buku Khazanah Budaya Nusantara IX, Selasa (13/10/2026), disusun Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, ciri paling menonjol dari masjid ini adalah atapnya yang terdiri atas tiga susun.
Bentuknya semakin mengecil ke atas hingga menyerupai limas pada bagian puncak. Bentuk ini berbeda dari banyak masjid di Sumatra yang memiliki rancangan atap lain.
Tak Memiliki Menara
Selain itu masjid ini juga tidak memiliki menara. Sementara bagian bangunannya dihiasi beragam ukiran, mulai dari motif sulur-suluran, daun, bunga, hingga bentuk yang menyerupai kepala gajah dan kala makara layaknya sebuah candi.
Motif tersebut memperlihatkan pertemuan tradisi seni yang berkembang di Nusantara, mulai dari ragam hias bercorak Hindu, hingga hiasan bercorak Islam seperti ukiran daun dan huruf Arab atau kaligrafi.
Masih dikutip dari sumber yang sama, Masjid Agung Pondok Tinggi mulai dibangun pada Rabu, 1 Juni 1874. Pembangunannya dilakukan dengan semangat gotong royong masyarakat setempat. Rancangan bangunan dibuat oleh Muhammad Tiru, seorang arsitek dari Rio Mandaro.
Nama masjid ini juga sempat mengalami perubahan. Pada awalnya, bangunan tersebut disebut Masjid Kerinci Jambi. Namanya kemudian berubah menjadi Masjid Pondok Tinggi, mengikuti nama desa tempat masjid berdiri.
Dikunjungi Mohammad Hatta
Pada 1953, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, berkunjung ke Pondok Tinggi dan menambahkan kata “Agung” pada nama masjid tersebut. Sejak itu, bangunan ini dikenal sebagai Masjid Agung Pondok Tinggi.

Keunikan lain dari masjid ini juga terlihat dari bagian struktur. Masjid ini hampir seluruhnya dibuat dari kayu.
Terdapat 36 tiang kayu berukuran besar dengan bentuk segi delapan sebagai penopang. Tiang-tiang tersebut disusun dalam tiga kelompok yang membentuk lapisan persegi, dari bagian tengah hingga bagian terluar bangunan.
Empat tiang utama di bagian terdalam disebut tiang tuap atau saka guru. Kelompok berikutnya terdiri atas delapan tiang, sedangkan 24 tiang lainnya membentuk lapisan paling luar.
Susunan tersebut membuat bagian dalam masjid memiliki struktur bertingkat yang kokoh. Pada bagian atas, antartiang dihubungkan dengan papan penguat berukir sulur-suluran. Sejumlah tiang juga memiliki hiasan menyerupai kepala gajah.
Bagian dinding Masjid Agung Pondok Tinggi juga terbuat dari papan kayu yang dihiasi ukiran terawang atau ukiran berlubang. Selain memperindah bangunan, lubang-lubang pada dinding juga berfungsi sebagai ventilasi udara.
Keunikan arsitektur Masjid Agung Pondok Tinggi tidak hanya terlihat pada bagian luar. Sejumlah elemen di dalam masjid juga memiliki bentuk dan hiasan yang khas.
Tempat Azan Unik
Tempat azan berada sekitar lima meter dari lantai. Bagian penyangganya dihiasi ukiran dan ditopang tiang segi delapan yang ukurannya lebih besar di bagian bawah daripada bagian atas.
Mimbar masjid juga memiliki beragam motif, seperti bunga padma, kala-makara, dedaunan, dan bunga-bungaan. Mimbar tersebut terlihat dilengkapi empat anak tangga serta bagian atas menyerupai atap berbentuk tanda kurung kurawal.
Sementara itu, dinding mihrab dihiasi pasangan porselen. Perpaduan material kayu, ukiran, dan porselen memperlihatkan kekayaan detail bangunan yang diwariskan masyarakat setempat.
Pintu keluar-masuk jemaah berada di bagian depan masjid. Ada pun pada bagian sudut luar bangunan terdapat ukiran berbentuk sirip.

Masjid Agung Pondok Tinggi juga menyimpan dua beduk dengan ukuran berbeda. Beduk besar memiliki panjang sekitar 7,5 meter, sedangkan beduk kecil berukuran sekitar 4,25 meter.
Beduk besar dibuat dari satu batang kayu utuh dan dikenal dengan nama Tabuh Larangan. Fungsinya bukan hanya untuk keperluan keagamaan, tetapi juga sebagai penanda ketika terjadi bahaya.
Sementara itu, beduk kecil digunakan untuk memberi tahu masyarakat tentang waktu salat.
Keberadaan dua beduk tersebut menunjukkan bahwa masjid pada masa itu tidak hanya menjadi tempat beribadah. Masjid juga berperan dalam kehidupan masyarakat, termasuk sebagai sarana menyampaikan informasi penting kepada warga.
Warisan Arsitektur Islam Pertahankan Unsur Tradisional
Masjid Agung Pondok Tinggi menjadi salah satu contoh warisan arsitektur Islam di Indonesia yang mempertahankan unsur tradisional setempat.
Bentuk atap, susunan tiang, ukiran, serta perlengkapan di dalamnya menyimpan cerita tentang keterampilan dan semangat gotong royong masyarakat Kerinci di masa lalu.
Melalui bangunan ini, sejarah perkembangan Islam di Nusantara dapat dilihat bukan hanya dari aktivitas keagamaan, tetapi juga dari cara masyarakat mengekspresikan nilai dan tradisi mereka melalui arsitektur yang khas.
