Mabur.co – Padukuhan Grogolan di Kalurahan Umbulmartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu wilayah yang memiliki tinggalan arkeologis yang berasal dari pendudukan Belanda hingga Jepang.
Salah satu bentuk tinggalan arkeologis yang ada pada Padukuhan Grogolan adalah bangunan loji, tugu, hingga pabrik goni.
Padukuhan Grogolan pada masanya pernah menjadi kawasan industri karena menurut kesaksian salah satu warga, kawasan ini pernah didirikan pabrik pemilahan bahan serat rami atau yang biasa dikenal dengan goni.
Goni ini digunakan oleh masyarakat untuk menyimpan hasil pertanian. Industri ini diduga memiliki keterkaitan dengan adanya loji di kawasan tersebut.
Meskipun kondisi saat ini bangunan loji tersebut dalam kondisi yang memprihatinkan, tetapi kekhasan bangunan Belanda masih terekam dalam loji ini.
Arsitektur Kolonial
Seperti halnya ruangan yang berukuran tinggi, struktur dinding yang tebal, kondisi arsitektur pintu dan jendela yang khas dengan gaya arsitektur kolonial.
Dilansir dari berbagai sumber, Minggu (25/10/2026), wilayah Grogolan pada masa lalu merupakan kawasan yang pernah ditempati oleh orang-orang Belanda.
Loji yang ditemukan, diduga dibangun pada masa tersebut, meskipun tahun pendiriannya tidak diketahui secara pasti.
Pada masa kolonial, kawasan ini juga digunakan sebagai lokasi pabrik pengolahan goni dari tanaman rami, yang pada saat itu berfungsi sebagai bahan penyimpanan hasil panen padi.
Memasuki masa pendudukan Jepang, kawasan Grogolan tetap dimanfaatkan dan mengalami penambahan fungsi.
Jepang Bangun Tugu
Jepang membangun sebuah tugu dan sebuah kolam besar yang bersumber dari Umbul Grogolan. Kolam tersebut digunakan sebagai tempat pemandian tentara Jepang.
Fakta ini menunjukkan bahwa kawasan Grogolan memiliki peran strategis dan fungsional dalam dua periode kekuasaan yang berbeda.
Selain Loji Grogolan dan tugu peninggalan Jepang, masih terdapat berbagai sisa struktur bangunan lama di sekitarnya.
Beberapa bangunan yang kini difungsikan sebagai sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan balai dusun diketahui berdiri di atas fondasi bangunan era kolonial Belanda.
Sisa Saluran Air Kuno
Di bagian selatan lapangan, ditemukan pula sisa-sisa saluran air kuno yang masih tertanam di dalam tanah.
Di sekeliling kawasan tersebut, dulunya juga terdapat tembok-tembok peninggalan Jepang yang diduga berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan.
Bahkan, wilayah ini pernah menjadi tempat singgah tentara Jepang saat proses penarikan pasukan menuju Bandara Maguwo (kini Bandara Adisutjipto), sebelum dipulangkan oleh pihak Sekutu.
Di Padukuhan Grogolan terdapat juga sisa-sisa tinggalan arkeologis seperti bekas bangunan Belanda yang saat ini sudah dijadikan bangunan sekolah SD Umbulwidodo, fondasi lama TK dan balai dusun, serta adanya sisa saluran air.
Pengajuan izin pengelolaan loji yang ditujukan sebagai desa wisata serta pengusulan pemugaran melalui dana keistimewaan DIY sudah dilakukan pada 2014-2015.
Namun, proses tersebut tidak berlanjut hingga kondisi bangunan mengalami kerusakan parah. Salah satu warga berpendapat bangunan ini masih layak dijadikan cagar budaya, namun keterbatasan mengenai status resmi bangunan belum terselesaikan sehingga upaya yang dilakukan tidak maksimal. ***
